Search This Blog

Saturday, August 23, 2014

BAHASAN BID'AH

Mohon dibaca dengan santai ga usah grusa
grusu biar bisa sedikit di fahami
Sambil istrahat nyoba membedah BIDAH
dengan Ilmu Balaghoh -Nahwu -Ushul Fiqih
Sebagaimana kita ketahui belakangan bnyk
skali orang yang berfatwa bahwa Maulidan
Bidah tahlilan Bidah Haul bidah dll
Merka merujuk sebuah hadis
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
Sayangnya merka memahami hadis membabi
buta sehingga fatwa " nylnehpun keluar dari
bibi" manis mereka
Mari kita bahs sedikit tentang lafad
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
Pada lafad di atas lafad
ﺑِﺪْﻋَﺔٍ itu kata benda, tentu mempunyai sifat,
tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat,
mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin
bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan
tidak disebutkan dalam hadits di atas;
Dalam Ilmu Balaghah dikatakan,
ﺣﺪﻑ ﺍﻟﺼﻔﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻮﺻﻮﻑ
membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid’ah
kemungkinannya adalah
a. Kemungkinan pertama :
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٌ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
Semua “bid’ah yang baik” itu sesat (dholalah),
dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan
sesat (dholalah) berkumpul dalam satu benda
dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal
itu tentu mustahil.
b. Kemungkinan kedua :
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺳَﻴِﺌَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻯﺎﻟﻨَّﺎِﺭ
Semua “bid’ah yang jelek” itu sesat (dholalah),
dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka
Jadi kesimpulannya bid’ah yang sesat masuk
neraka adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang
jelek).
Hal ini sesuai pula jika ditinjau dari ilmu nahwu
Kalimat bid’ah ( ﺑﺪﻋﺔ ) di sini adalah bentuk ISIM
(kata benda) bukan FI’IL (kata kerja).
Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim
terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim
Nakirah (umum).
Nah.. kata BID’AH ini bukanlah
1. Isim dhomir
2. Isim alam
3. Isim isyaroh
4. Isim maushul
5. Ber alif lam
yang merupakan bagian dari Isim Ma’rifat.
Jadi kalimat bid’ah di sini
ﻛُﻞُّ adalah Isim Nakiroh dan di sana berarti
tidak ber-idhofah (bersandar) kepada salah
satu dari yang 5 di atas. Seandainya
ﻛُﻞُّ ber-idhofah kepada salah satu yang 5 di
atas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ’, ia ber-idhofah kepada.
nakiroh. Sehingga dhalalah-nya adalah bersifat
‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang
bersifat umum pastilah menerima pengecualian.
Contoh Contoh lafal umum yang dikhususkan
dengan al-hiss, seperti firman Allah:
ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﻻ ﻳُﺮَﻯ ﺇِﻻ
ﻣَﺴَﺎﻛِﻨُﻬُﻢْ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ
"Angin yang menghancurkan segala sesuatu
dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka
tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-
bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah
Kami memberi Balasan kepada kaum yang
berdosa." (QS Al-Ahqoof : 25).
Tentunya indra kita mengetahui bahwasanya
kenyataannya tidak semuanya yang
dihancurkan oleh angin tersebut, langit dan
bumi tidak dihancurkan oleh angin tersebut
buktinya sampe skrng masih ada too hehe
. Lafad ﻛُﻞَّ berarti tidak harus bermakna semua
tapi ada juga sebagian
Begitu juga dalam lafad
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
Tidak semua bidah itu sesat
Hal ini juga di tegaskan Ulama yang sholeh,
bersanad ilmu tersambung kepada Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam seperti Imam
Nawawi ra yang bermazhab Syafi’i mengatakan
ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻫَﺬَﺍﻋَﺎﻡٌّ ﻣَﺨْﺼٍُﻮْﺹٌ ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ
ﻏَﺎﻟِﺐُ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ .
“Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Kullu
Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush,
kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya.
Jadi yang dimaksud adalah sebagian besar
bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh
Shahih Muslim, 6/154).
Kesimpulanya sudah sangat jelas Bahwa tidah
semua bidah itu sesat sperti kebanyakan
perkata'an " wahabi yang mengartikan sebuah
hadis dengan membabi buta
Sehingga merekapun mengeluarkan fatwa
Tahlilan maulidan dll pokoknya sgala sesuatu
Amalan yang tidak ada di zaman Rosulullah
adalah Bidah
Padahal Bidah sendiri bukanlah sebuah hukum
Dalam Ushul Fiqih
Hukum islam sendiri sudah jelas kalo hukum
Islam ada 5
Majib
Sunah
Mubah
Makruh
Haram
Ga ada satu Imam Madhab menjadikan Bidah
sebuah hukum
Bidah adalah sesuatu yang harus di hukumi
Kebiasaan wong " wahabi menggunakan hadis
ini untuk menuduh amalan kita dengan kata
Bidah
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
“ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak
ada
perintahnya, maka ia tertolak “
_____________________
Mari kita udari hadis tersebut dengan berbagai
alat heeh e
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Benarkah hadits ini bermakna :
“ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak
ada
perintahnya, maka ia tertolak “
Buat wahabi Simak pembahasannya di sini
pakai ilmu (bukan pakai
nafsu) dan tidak boleh mbantah yoo lebih baik
antum nanya sama guru" antum yooo
Hadis ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Kita coba dulu
Meninjau dari sisi ilmu lughoh :
- I’rab nahwunya :
ﻣﻦ : adalaha isim syart wa jazm mabniyyun
‘alas sukun fi
mahalli rof’in mubtada’ wa khobaruhu
aljumlatus
syartiyyah ba’dahu.
ﺍﺣﺪﺙ : Fi’il madhi mabniyyun ‘alal fathah fii
mahalli jazmin
fi’lu syarth wal fa’il mustatir jawazan taqdiruhu
huwa.
ﻓﻲ : Harfu jar
ﺍﻣﺮﻧﺎ :majrurun bi fii wa lamatu jarrihi alkasrah,
wa naa
dhomirun muttashil mabnyyyun ‘alas sukun fii
mahlli
jarring mudhoofun ilaihi
ﻫﺬﺍ : isim isyarah mabniyyun alas sukun fi
mahalli jarrin
sifatun liamrin
ﻣﺎ : isim mabniy fii mahhli nashbin maf’ul bih
ﻟﻴﺲ : Fi’il madhi naqish yarfa’ul isma wa
yanshbul khobar
,
wa ismuha dhomir mustatir jawazan taqdiruhu
huwa
ﻣﻨﻪ : min harfu jarrin wa hu
dhomir muttashil mabniyyun
alad dhommi wahuwa littab’iidh
ﻓﻬﻮ : al-faa jawab syart. Huwa dhomir
muttashil
mabniyyun alal fathah fi mahalli rof’in mubtada
ﺭﺩ : khobar mubtada marfuu’un wa alamatu
rof’ihi
dhommatun dzhoohirotun fi aakhirihi. Wa
umlatul
mubtada wa khobaruhu fi mahalli jazmin
jawabus syarth.
------------------------------------------»
Dari uraian sisi nahwunya maka bermakna :”
Barangsiapa
yang melakukan perkara baru dalam urusan
kami yaitu
urusan syare’at kami yang bukan termasuk
darinya, tidak
sesuai dengan al-Quran dan hadits, maka
perkara baru
itu ditolak “
Makna makna tsb sesuai dengan statement
imam Syafi’i yang
sudah masyhur :
ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻭﺧﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﺃﻭ ﺃﺛﺮﺍ ﻓﻬﻮ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ، ﻭﻣﺎ
ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩﺓ
“ Perkara baru yang menyalahi al-Quran,
sunnah, ijma’
atau atsan maka itu adalah bid’ah dholalah /
sesat. Dan
perkara baru yang baik yang tidak menyalahi
dari itu
semua adalah bid’ah mahmudah / baik “
- Istidlal ayatnya (Pengambilan dalil dari
Qurannya) :
ﻭﺟﻌﻠﻨﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﺗﺒﻌﻮﻩ ﺭﺃﻓﺔ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﻭﺭﻫﺒﺎﻧﻴﺔ
ﺍﺑﺘﺪﻋﻮﻫﺎ ﻣﺎ ﻛﺘﺒﻨﺎﻫﺎ
ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺇﻟﺎ ﺍﺑﺘﻐﺎﺀ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ
“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-
orang yang
mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih
sayang,
dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah,
padahal
Kami tidak mewajibkannya kepada mereka,
tetapi
(mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk
mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
- Istidlal haditsnya (pengambilan dalil dari
haditsnya) :
ﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ
ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ
ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ، ﻭﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ
ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ
ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ
ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama
Islam
sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya
pahala dari
perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang
yang
melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa
berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan
barang
siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk
maka
baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan
dosa dari
orang yang melakukannya (mengikutinya)
setelahnya
tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka
sedikitpun”. (HR.
Muslim)
---------------------------------------------
--------------
Skarang mari kita lihat hadis tersebut denga
ilmu BALAGHOH :
Dalam hadits tsb memiliki manthuq dan
mafhumnya :
Manthuqnya “ Siapa saja yang melakukan hal
baru yang
tidak bersumber dari syareat, maka dia tertolak
“,
misalnya sholat dengan bahsa Indonesia,
mengingkari
taqdir, mengakfir-kafirkan orang,dll.
Mafhumnya : “ Siapa saja yang melakukan hal
baru yang
bersumber dari syareat, maka itu diterima “
Contohnya
sangat banyak skali sprti pembukuan Al-Quran,
pemberian titik al-Quran, mauled, tahlilan, khol,
sholat
trawikh berjama’ah dll.
Berangkat dari pemahaman ini, sahabt Umar
berkata saat
mengkumpulkan orang-orang ungtuk melakukan
sholat
terawikh berjama’ah :
ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ
“ Inilah sebaik-baik bid’ah “
Dan juga berkata sahabat Abu Hurairah Ra :
ﻓﻜﺎﻥ ﺧﺒﻴﺐ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺳﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ ‏) ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ )
“Khubaib adalah orang yang pertama kali
merintis shalat
ketika akan dibunuh”.
(HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi
Syaibah
dalam kitab al-Mushannaf)
Jika semua perkara baru itu buruk, maka
sahabat2 tsb
tidak akan berkata demikian.
________________________
Nah sekarang kita cermati makna hadits di atas
dari
wahhabi salafi :
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Hadits ini mereka artikan :
Pertama : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru
dalam
agama, maka ia tertolak “
Jika mreka mngartikan demikian, maka mereka
sengaja
membuang kalimat MAA LAITSA MINHU-nya
(Yang
bersumber darinya). Maka haditsnya menjadi :
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ
ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Kedua : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru
yang tidak
ada perintahnya, maka ia tertolak “
Jika merka mngartikan seperti itu, berarti
merka dengan
sengaja telah merubah makna hadits MAA
LAITSA MINHU-
nya MENJADI MAA LAITSA MA-MUURAN BIHI
(Yang tidak ada
perintahnya).
Maka haditsnya menjadi : ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ
ﻫﺬﺍ
ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺄﻣﻮﺭﺍ ﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Sungguh ini sebuah distorsi dalam makna
hadits dan
sebuah pengelabuan pada umat muslim.
Jika mereka menentang dan berdalih : “
Bukankah Rasul
Saw telah memuthlakkan bahwa semua bid’ah
adalah
sesat, ini dalilnya :
ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ ﻭﻣﺤﺪﺛﺎﺕ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻛﻞ
ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ
ﺩﺍﻭﺩ
Maka kita jawab : Hadits tsb adalah ‘Aam
Makhsus
(lafadznya umum namun dibatasi) dgn bukti
banyak dalil
yang menjelaskannya sprti hadits 2 sahabat di
atas.
Maksud hadits tsb adalah setiap perkara baru
yang
brtentangan dgn al-quran dan hadits.
Perhatikan hadits riwayat imam Bukhori
berikut :
ﺃﺷﺎﺭ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻠﻰ
ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺑﺠﻤﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺻﺤﻒ ﺣﻴﻦ ﻛﺜﺮ
ﺍﻟﻘﺘﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻲ
ﻭﻗﻌﺔ ﺍﻟﻴﻤﺎﻣﺔ ﻓﺘﻮﻗﻒ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻗﺎﻝ :" ﻛﻴﻒ ﻧﻔﻌﻞ ﺷﻴﺌﺎ
ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟ "
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ :" ﻫﻮ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ ." ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﻋﻤﺮ ﻳﺮﺍﺟﻌﻪ
ﺣﺘﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺪﺭﻩ
ﻟﻪ ﻭﺑﻌﺚ ﺇﻟﻰ ﺯﻳﺪ ﺍﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻜﻠﻔﻪ
ﺑﺘﺘﺒﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺟﻤﻌﻪ ﻗﺎﻝ
ﺯﻳﺪ :" ﻓﻮﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻛﻠﻔﻮﻧﻲ ﻧﻘﻞ ﺟﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺒﺎﻝ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ
ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻣﻤﺎ ﻛﻠﻔﻨﻲ ﺑﻪ ﻣﻦ
ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ." ﻗﺎﻝ ﺯﻳﺪ :" ﻛﻴﻒ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ." ﻗﺎﻝ :" ﻫﻮ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ " ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ
ﻳﺮﺍﺟﻌﻨﻲ ﺣﺘﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﺪﺭﻱ ﻟﻠﺬﻱ ﺷﺮﺡ ﻟﻪ ﺻﺪﺭ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻨﻬﻤﺎ .
“ Umar bin Khothtob member isayarat kpd Abu
Bakar Ash-
Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam
satu
mushaf ktika melihat banyak sahabat penghafal
quran
telah gugur dalam perang yamamah. Tapi Abu
Bakar diam
dan berkata “ Bagaimana aku melakukan
sesuatu yang
tidak dilakukan oleh Rasul Saw ?” MaKA Umar
menjawab “
Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Beliau
selalu
mengulangi hal itu hingga Allah melapangkan
dadanya.
Kmudian Abu bakar memrintahkan Zaid bin
Tsabit untuk
mengumpulkan Al-Quran, maka Zaid berkata “
Demi Allah
aku telah terbebani untuk memindah gunjung ke
satu
gunung lainnya, bagaimana aku melakukan
suatu hal
yang Rasul Saw tdiak melakukannya ?” maka
Abu bakar
mnjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “.
Abu bakar
trus mngulangi hal itu hingga Allah
melapangkan dadaku
sbgaimana Allah telah melapangkan dada Umar
dan Abu
Bakar “.
Coba perhatikan ucapan Umar dan Abu Bakar “
Demi Allah
merka mngatakan Rasul Saw tidak pernah
melakukannya,
namun bukan berarti itu buruk.
ika merka mengatakan sahabat Abdullah bin
Umar telah
berkata :
ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ﻭﺇﻥ ﺭﺁﻫﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺔ
“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang
menganggapnya baik “.
Maka kita jawab :
Itu memang benar, maksudnya adalah segala
bid’ah
tercela itu sesat walaupun orang-orang
menganggapnya
baik
. Contohnhya bertaqarrub pd Allah dengan
mndengarkan lagu dangdutan..
Jika sahabat Abdullah bin Umar memuthlakkan
bahwa
semua bid’ah itu sesat tanpa trkecuali
walaupun orang2
mengangaapnya baik, lalu kenapa juga beliau
pernah
berkata :
ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ “ Itu bid’ah dan sebaik-baik
bid’ah “
Saat beliau ditanya tentang sholat dhuha.
Lebih
lengkapnya :
ﻋﻦ ﺍﻷﻋﺮﺝ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻀﺤﻰ
ﻓﻘﺎﻝ :" ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻧﻌﻤﺖ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ
“ Dari A’raj berkata “ Aku bertanya kepada Ibnu
Umar
tentang sholat dhuha, maka beliau menjawab “
Itu bid’ah
dan sebaik-baik bid’ah “.
Apakah pantas seorang sahabat sprti Abdullah
bin Umar
tidak konsisten dalam ucapannya alias pllin-
plan ??
sungguh sangat jauh dr hal itu.
KESIMPULAN :
- Cara membedakan bid’ah dholalah dan bid’ah
hasanah
adalah :
ﻭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺴﻴﺌﺔ ﺑﻤﻮﺍﻓﻘﺔ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺸﺮﻉ
ﻭﻋﺪﻣﻬﺎ
“ Dengan sesuai atau tidaknya dengan pokok-
pokok
syare’at “.
- Orang yang mengartikan hadits :
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Dengan : “ Bar angsiapa yang melakuakn hal
baru maka
itu tertolak “ atau “ Brangsiapa yang melakukan
hal baru
tanpa ada perintahnya maka ia tertolak “.
Orang yang mengartikan seperti itu, berarti ia
telah
berbuat bid’ah dholalah / sesat, akrena tidak
ada
dasarnya sama sekali baik dari Al-Quran, hadits
maupun
atsarnya..
Dan telah sengaja merubah makna hadits Nabi
Saw tersebut..dan kita tahu apa sangksi bagi
orang yang
telah berdusta atas nama Nabi Saw..Naudzu
billahi min
dzaalik..
---------------------------------------------
---------------------------
Kalo kita salah memahami hadis tentang bidah
yo seperti itu dengan gampangnya bisa
menuduh amalan" orang lain dengan kata bidah
dll padahal mereka bidah saja nga tau
Dan buat para WAHABI YANG SUKA TERIAK
MABA DALILNYA FAHAMI INI
Husus buaat wahabi yang masih dalam
kebingungan memahami persoalan ibadah
sehingga masih tetap saja ngeyel
membid’ahkan amal-amal shalih kaum
muslimin…. Marilah kita belajar bersama.
Simak uraian berikut ini.....
Kita ambil salah satu contoh kasus dari isu-isu
bid’ah yang selalu menganggapnya bid’ah yang
haram.
Contoh kasus MAULID /Yasin Tahlil yang
semenjak dulu sampai sekarang terus selalu
saja ada menganggapnya berdosa jika
melakukannya. Walaupun sudah banyak
penjelasan dijelaskan oleh para pelaku Maulid,
tetapi rupanya anda sekalian belum bisa
paham-paham juga. Sebabnya mungkin karena
keegoisan atau karena belum mengerti
persoalan ibadah.
Apakah anda sudah pernah mengikuti acara
peringatan MAULID NABI /Yasin Tahlil dll ?
Jika pernah mengikutinya, tentunya anda tahu
bahwa di dalam acara 'contoh' Maulid Nabi itu
berisi aktifitas yang isinya antara lain tholabul
ilmi, shodaqoh, dzikir, pembacaan biografi Nabi
dan biasanya di akhir acara ada tausiyah
keislaman. Nah… anda pastinya sangat hafal
dengan dalil-dalil tentang tholabul ilmi,
shodaqoh, dzikir dan tausiyah, dalil-dalilnya
sudah banyak tersebar di seantero Dunia nyata,
silakan cari sendiri..
apa yang ingin ditanyakan disini dan ini bagi
anda adalah sangat bermasalah yaitu adakah
Dalil dari “Peringatan MAULID”? Benar-benar
adakah dalilnya atau tidak ada?
Sebelum menjawabnya, di sini sebaiknya akan
dijelaskan sedikit tentang kaidah ushul fiqh. Kita
mulai dari suatu kaidah dalam ushul fiqh yang
sering diLotarkan oleh sebagian teman-teman
bahwa: “Asal semua ibadah adalah haram,
sampai ada dalil yang menghalalkannya atau
menyuruhnya”.
Bermula dari kaidah ini suatu amalan yang
diangap ibadah selalu muncul pertanyaan:
“Mana Dalilnya?”
Ini karena amalan dipersepsikan kepada sifat
dari ibadah yang tauqif. Permasalahannya
adalah sudah tahukah anda, untuk ibadah yang
jenis atau macam apakah kaidah tersebut
seharusnya diterapkan?
- Penjelasan dari Kitab
-------------------------
Kita akan coba mengambil penjelasan dari kitab
ushul Fiqh:
ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ
ﻭﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺃﻭﺩ ﺃﻥ ﺃﻗﻒ ﻋﻨﺪ ﻗﻀﻴﺔ ﺃﺳﺎﺳﻴﺔ ﻓﻲ
ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺟﻤﻴﻌﺎً ﻭﻫﻲ ﻗﺎﻋﺪﺓ ﻣﻌﺮﻭﻓﺔ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ،
” ﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ” ﻛﻤﺎ “ ﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ
ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﻣﻼﺕ ﻭﺍﻟﻌﻘﻮﺩ ﺍﻹﺑﺎﺣﺔ” ، ﻭﻫﺬﻩ ﻗﺎﻋﺪﺓ ﻧﻔﻴﺴﺔ
ﻭﻣﻬﻤﺔ ﺟﺪﺍً ﻭﻧﺎﻓﻌﺔ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ، ﻓﺒﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻻ
ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﺮﻉ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻋﺒﺎﺩﺓً ﻟﻢ ﻳﺄﺫﻥ ﺑﻬﺎ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﺑﻞ ﻟﻮ ﻓﻌﻞ ﻟﻜﺎﻥ ﻗﺪ ﺷﺮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻣﺎ
ﻟﻢ ﻳﺄﺫﻥ ﺑﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﻠﻢ ﻳﻜﻦ ﻷﺣﺪٍ ﺃﻥ ﻳﺘﺼﺮﻑ ﻓﻲ ﺷﺄﻥ
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺃﻭ ﺍﻟﺤﺞ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺃﻭ ﻧﻘﺼﺎً ﺃﻭ
ﺗﻘﺪﻳﻤﺎً ﺃﻭ ﺗﺄﺧﻴﺮﺍً ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ، ﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﻌﻞ
ﻫﺬﺍ، ﺑﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺘﻠﻘﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ، ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ
ﻟﻬﺎ ﺗﻌﻠﻴﻞ، ﺑﻞ ﻫﻲ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻷﺻﻮﻟﻴﻮﻥ : ﻏﻴﺮ ﻣﻌﻘﻮﻟﺔ
ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ، ﺃﻭ ﺗﻌﺒﺪﻳﺔ، ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﻋﻘﻮﻟﻨﺎ ﻧﺤﻦ
ﻣﺎ ﻳﺒﻴﻦ ﻟﻤﺎﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺭﺑﻌﺎً، ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﺃﺭﺑﻌﺎً،
ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺛﻼﺛﺎً، ﻭﺍﻟﻔﺠﺮ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ، ﻟﻴﺲ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻣﺎ ﻳﺪﻝ
ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺃﻧﻨﺎ ﺁﻣﻨﺎ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ، ﻭﺻﺪّﻗﻨﺎ ﺭﺳﻮﻟﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﺠﺎﺀﻧﺎ ﺑﻬﺬﺍ ﻓﻘﺒﻠﻨﺎﻩ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ
ﻃﺮﻳﻖ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﻭﻃﺮﻳﻖ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ، ﻓﻤﺒﻨﺎﻫﺎ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻭﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﻨﻘﻞ ﻻ ﻏﻴﺮ، ﺑﺨﻼﻑ
ﺍﻟﻤﻌﺎﻣﻼﺕ ﻭﺍﻟﻌﻘﻮﺩ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻓﺈﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻹﺑﺎﺣﺔ
ﻭﺍﻹﺫﻥ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻭﺭﺩ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﻠﻮ ﻓﺮﺽ
ﻣﺜﻼً ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺧﺘﺮﻋﻮﺍ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺟﺪﻳﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﻣﻠﺔ
ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺀ ﻋﻘﺪﺍً ﺟﺪﻳﺪﺍً ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍً ﻓﻲ
ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﻣﻨﻊ، ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺭﺑﺎً
ﻭﻻ ﻏﺮﺭ ﻭﻻ ﺟﻬﺎﻟﺔ ﻭﻻ ﻇﻠﻢ ﻭﻻ ﺷﻲﺀ ﻳﺘﻌﺎﺭﺽ ﻣﻊ
ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻓﺤﻴﻨﺌﺬٍ ﻧﻘﻮﻝ : ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻣﺒﺎﺡ؛
Langsung ke maksudnya …. Bahwa yang
dinamakan ibadah sifatnya "tauqif" yaitu sudah
ditetapkan dan tidak boleh ditambah-tambah
atau dikurangi atau mendahulukan atau
melebihkan atau apapun itu…., contohnya
ibadah wajib shalat lima waktu, ibadah haji, dll.
Tentunya ini berbeda dengan muamalah yang
asalnya boleh sampai adanya dalil yang
melarangnya…
Nah sekarang kita lihat apakah sebenarnya
ibadah tauqif itu….
ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻓﻲ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ
ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺗﻮﻗﻴﻔﻴﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ، ﺗﻮﻗﻴﻔﻴﺔ ﻓﻲ ﺻﻔﺘﻬﺎ -
ﻓﻲ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ - ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪ ﺃﻭ ﻳﻨﻘﺺ،
ﻛﺄﻥ ﻳﺴﺠﺪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻛﻊ ﻣﺜﻼً ﺃﻭ ﻳﺠﻠﺲ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ
ﻳﺴﺠﺪ، ﺃﻭ ﻳﺠﻠﺲ ﻟﻠﺘﺸﻬﺪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﺠﻠﻮﺱ،
ﻓﻬﻴﺌﺔ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺗﻮﻗﻴﻔﻴﺔ ﻣﻨﻘﻮﻟﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ
Tauqifi dalam sifat ibadah
Ibadah itu tauqifi dalam semua hal, dalam
sifatnya….
Maka tidak boleh untuk menambah dan
megurangi, seperti sujud sebelum ruku’, atau
duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud
tidak pada tempatnya… oleh karena itu, yang
namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari
syari’ ( pembuat syari’ah yaitu Allah ).
ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺯﻣﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺗﻮﻗﻴﻔﻲ -
ﺃﻳﻀﺎً - ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﺮﻉ ﺯﻣﺎﻧﺎً ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﻟﻢ ﺗﺮﺩ،
ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﺜﻼً
Tauqifi dalam waktu pelaksanaan ibadah
Waktu pelaksanaan ibadah juga tauqifi. Maka
tidak boleh seseorang itu membuat-buat ibadah
di waktu tertentu yang syari’ tidak
memerintahkannya.
ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻓﻲ ﻧﻮﻉ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ
ﻛﺬﻟﻚ ﻻﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﻓﻲ ﻧﻮﻋﻬﺎ،
ﻭﺃﻋﻨﻲ ﺑﻨﻮﻋﻬﺎ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎً، ﻓﻼ
ﻳﺠﻮﺯ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﺒﺪ ﺑﺄﻣﺮ ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻉ ﺃﺻﻼً، ﻣﺜﻞ ﻣﻦ
ﻳﺘﻌﺒﺪﻭﻥ ﺑﺎﻟﻮﻗﻮﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻤﺲ، ﺃﻭ ﻳﺤﻔﺮ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻓﻲ
ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻳﺪﻓﻦ ﺑﻌﺾ ﺟﺴﺪﻩ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻫﺬﺏ
ﻭﺃﺭﺑﻲ ﻭﺃﺭﻭﺽ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﺜﻼً، ﻓﻬﺬﻩ ﺑﺪﻋﺔ !
Tauqifi dalam macamnya ibadah
Begitu juga ibadah juga harus disyaratkan
sesuai dengan syari’at….
Artinya termasuk dari macam / jenis ibadah
yang disyari’atkan. Maka tidak sah bagi orang
yang menyembah sesuatu yang tidak
disyari’atkan, seperti menyembah matahari.
Atau memendam jasadnya sebagian sembari
berkata: aku ingin melatih badanku misalkan.
Maka ini semua bid’ah.
ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ
ﻛﺬﻟﻚ ﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻻﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎً، ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ
ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﺒﺪ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﺎﻧﻬﺎ، ﻓﻠﻮ ﻭﻗﻒ
ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ - ﻣﺜﻼً - ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺑﺎﻟـﻤﺰﺩﻟﻔﺔ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﺣﺠﺎً ﺃﻭ
ﻭﻗﻒ ﺑـﻤﻨﻰ، ﺃﻭ ﺑﺎﺕ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻤﺰﺩﻟﻔﺔ ﺑـﻌﺮﻓﺔ، ﺃﻭ ﺑﺎﺕ
ﻟﻴﺎﻟﻲ ﻣﻨﻰ ﺑﺎﻟـﻤﺰﺩﻟﻔﺔ ﺃﻭ ﺑـﻌﺮﻓﺔ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺩّﻯ ﻣﺎ
ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻠﺘﺰﻡ ﺑﺎﻟﻤﻜﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺣﺪﺩﻩ
ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ .
Begitu juga tauqifi dalam tempat ibadah.
Maka ini juga harus masyru’. Maka tidak boleh
beribadah tidak pada tempat yang sudah
disyari’atkan. Seperti jika seseorang wukuf di
Muzdalifah, maka ini bukan haji. Atau wuquf di
Mina, atau bermalam ( muzdalifah ) di ‘Arafah,
dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah
sesuatu yang masyru’. Kita wajib melaksanakan
ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan
oleh syari’.
- Ibadah Mahdhoh, Ghoiru Mahdhoh, Wasail dan
Maqosid
-------------------------------
Berdasarkan dari penjelasan- kitab di atas
dapat ditangkap 4 point, dan bila diperhatikan
maka di situ didapat kesimpulan bahwa ibadah
yang sifatnya tauqif itu adalah ibadah
mahdhoh… Jadi yang dimaksud ibadah dalam
kaidah “Asal semua ibadah adalah haram,
sampai ada dalil yang menghalalkannya atau
menyuruhnya”, adalah diterapkan untuk ibadah
yang sifatnya mahdoh saja, bukan semua
ibadah.
Nah untuk bisa membedakannya, ibadah harus
dilihat wasail (perantara) dan maqoshidnya
(tujuan).
Untuk ibadah yang sifatny mahdhoh Cuma ada
maqoshid, sedangkan untuk ghoiru mahdhoh
ada maqoshid juga ada wasail.
CONTOH:
Ibadah Sholat, ini sudah jelas karena ibadah
yang dzatnya adalah ibadah, maka yang ada
Cuma maqoshid (tujuan) tidak ada wasail.
Misalnya Anda seorang penulis di blog /FB,
kegiatan menulis sendiri itu bukan ibadah maka
hukumnya mubah. Tapi karena anda
mengharapkan ridho Allah dalam rangka
dakwah dengan jalan menulis di blog /FB maka
dalam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah.
Padahal ini nggak ada contoh dari Rasulullah,?
Wasailnya anda menulis di blog /FB,
maqoshidnya anda mengharapkan ridho Allah
dalam rangka berdakwah.
Pekerjaan menulis yang begini ini juga termasuk
ibadah, tapi ibadah semacam ini tidak
dicontohkan oleh Rasul Saw, juga tidak
dicontohkan oleh Para Sahabat Nabi.
Nah, yang salah kaprah ketika anda
menganggap kegiatan menulis ini disamakan
dengan ibadah yang dzatnya adalah ibadah
seperti ibadah mahdhoh. Kalau dipandang
sedemikian maka seharusnya MENULIS
dianggap bid’ah sesat (dholalah).
Begitulah, karena salah anggapan seperti inilah,
maka selama ini sedikit-sedikit ada yg bilang
bid’ah! Tahlilan itu bid’ah, Maulid juga bid’ah,
Yasinan itu bid’ah dan berdosa para pelakunya.
Padahal semua ini adalah ibadah ghoiru
mahdhoh yang ada wasail dan maqosid-nya
sebagaimana contoh di atas. Jadi kalau semua
itu ditanya mana dalilnya pasti ada di
maqosidnya, demikianlah.
Kita kasih contoh lagi biar semakin jelas ?
Di Indonesia ada macam-macam kegiatan
Pengajian (kajian ilmiyyah) dan Tabligh Akbar.
Awalnya bentuk kedua kegiatan ini bukan
ibadah dan tidak ada contoh dari Rasul jadi
hukumnya mubah. Tapi karena isi dari kegiatan
ini adalah ibadah berupa tholabul
ilmi ,pembacaan Al Quran dan tausiyah atau
bahkan dakwah maka kegiatan pengajian dan
tabligh akbar insyaallah berpahala, bernilai
ibadah.
(wasailnya kegiatan pengajian dan tabligh
akbar, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah
dalam rangka tholabul ilmi dan berdakwah).
Sekali lagi jika anda menganggap kegiatan
pengajian dan tabligh ini sebuah ibadah yang
dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh
maka sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah.
MonGgo di seruput dulu coffinya hehhehe
Demikian juga dengan Maulid, bahwa maulid
adalah wasail (perantara atau ada yang bilang
sarana), maqoshidnya adalah mengenal Rasul
dan mengagungkannya. Bagaimanakah hukum
awal dari Maulid?
Jawabnny adalah mubah, boleh dilakukan juga
boleh tidak dilakukan.
Tapi kenapa menjadi sunah? Menjadi sunah
dikarenakan hukum maqoshidnya adalah sunah
(mengenal dan mengagungkn Rasul adalah
Sunah disamping ada bacaan Quran +tausyiah).
Karena yang namanya hukum wasail itu
mengikuti hukum maqoshid (Lil Wasail hukmul
Maqoshid) – ini adalah kaidah ushul fiqh.
- Pertanyaan yang Salah Bagaimana Dijawab?
-----------------
Contoh gampangnya untuk penjelasan Lil
Wasail hukmul Maoshid: anda membeli air
hukumnya mubah, mau beli atau nggak, gak
ada dosanya. Tapi suatu saat tiba waktu sholat
wajib sedangkan air sama sekali tidak ada
kecuali harus membelinya dan anda punya
kemampuan untuk itu maka hukum membeli air
adalah wajib.
Kembali lagi ke Maulid. Apakah maulid bisa
menjadi sesuatu yang bid’ah (dholalah)? Ya,
bisa jika anda menganggap Maulid adalah
sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah
seperti ibadah mahdhoh.
Perlu digaris bawahi pertanyaan-pertanyaan
seperti: apakah ada dalilnya memperingati
maulid Nabi? INI ADALAH PERTANYAAN YANG
SALAH. Tidak ada ceritanya namanya wasail
ada dalil qoth’inya.
Contoh lagi biar lebih gampang mencerna: anda
berangkat bersekolah, ini adalah wasail.
Maqoshidnya adalah tholabul ilmi. Karena
tholabul ilmi itu hukumnya wajib maka
berangkat ke sekolah pun menjadi wajib dan
bernilai ibadah. Dalil yang ada adalah dalil
tentang tholabul ilmi. Jika ditanya: “Manakah
dalil yang menyuruh kita berangkat ke
sekolah?” JELAS TIDAK ADA!! Karena ini
adalaha wasail atau sarana.
Begitu pula dengan Maulid, kalau anda tanya
dalil maqoshidnya yaitu tentang mengenal dan
mengagungkan Rasul ya pasti ada dalilnya
dong? Tapi jika anda tanya dalil wasailnya,
yaitu memperingati Maulid? JELAS TIDAK ADA!!
Karena ini adalaha wasail atau sarana.
- Dalil Wajibnya Bermadzhab
--------------------
Sedikit tambahan; ini juga dalil kenapa
bermadzab itu wajib hukumnya bagi kita,
karena madzab adalah wasail, dan ini satu-
satunya cara yang bisa dilakukan untuk
mengerti agama ini, kita gak mungkin bertanya
langsung ke Rasul. Sedangkn maqoshidnya
agar kita bisa mengerti tentang agama Islam
sehingga kita bisa mengamalkannya dengan
benar (ini hukumnya ini wajib). Maka
bermadzab menjadi wajib. Kalau anda tanya
mana dalil naqlinya secara leterleg yang
menyuruh kita bermadzab? Yaa gak ada, lha
wong bermadzab itu cuma wasail kok, Mas?
Bagaimana apakah anda semua sudah paham?
Demikianlah, kita semua berharap setelah
penjelasan ini kita bisa belajar dan lebih
mengerti sehingga tidak serampangan dalam
bertanya. Ingatlah, sebaiknya anda tidak lagi
sering-sering membuat pertanyaan-pertanyaan
yang salah. Kalau pertanyaannya saja salah,
bagaimana menjawabnya?
Jangan sedikit-sedikit bertanya “MANA
DALILNYA” tanpa tahu sesuatu hal itu perlu
dalil atau tidak. Sadarlah kalian, bagaimana
pertanyaan bisa dijawab kalau pertanyaannya
saja salah?
Sejak sekarang mulailah belajar membedakan
apakah sesuatu itu butuh dalil atau tidak.
Sebab tidak semua hal itu harus ada dalilnya
Itu saja
Monggo di sruputttt
)
Dan bagi wahabi yang berada di depok dan
sekitarnya kalo ada waktu kang abdu mau
ngajak ngoffi bareng
Kao sempet kabarin yoo
No no Kang Abdu. -
-081297354709
Pin bb -227741F4
Salam. Kang Santri sarkub depok

No comments:

Post a Comment

Melagkah pasti