Sunday, November 27, 2016

Jangan pelit waktu tuk yang maha agung

Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk berbakti pada Yang Maha suci..??
Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk memenuhi kewajiban mencari nafkah buat sanak famili...??
Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk sekedar istirahat saat kerja...??
Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk berleha-leha tanpa makna...??
Ini mah seandainya kita sudi tuk meluangkan sedikit waktu dengan khusyu' dan khudlur tuk mengikuti apa yang tertuang dibawah ini.
Mari kita rasakan sama-sama dan kita awali dengan
بسم الله الرحمن الرحيم....



Semoga Alloh mencatat semua kebaikan kita dan kedua orang tua kita, serta menghapuskan segala dosa-dosa kita, dosa pada Ilahi dan Adami....
Aamiin....

Habib Syech - Alangkah Indahnya Hidup Ini New Version (Lyrics)

Monday, November 14, 2016

CAHAYA DIATAS CAHAYA

Sang Mustapha bertutur tentang permohonan Neraka,
ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati:
"berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah padamkan apiku."
Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api,
karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna.
Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya,
karena api bersumber dari Murka-Nya,
sementara cahaya dari Rahmat-Nya.
Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan,
tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api.
Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu:
inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan.
Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi
lari menjauh dari orang seperti mereka,
karena engkau tersusun dari api,
sementara mereka dari aliran air.
Api melarikan diri dari air,
karena takut nyala dan asapnya
dipadamkan oleh air.
Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api;
pikiran dan perasaan orang suci
tersusun dari cahaya yang indah.
Ketika percikan cahaya orang suci menetes
di atas api, terdengar suara berdesis,
dan lidah api menjilat dengan murka.
Ketika datang saat seperti itu, katakanlah,
“mati dan musnahlah engkau,”
agar padam neraka itu,
yaitu api hawa-nafsumu.
Sehingga ia tak membakar taman mawarmu,
sehingga ia tak membakar keadilan dan hasanah-mu.
Setelah berhasil engkau padamkan,
barulah bibit yang engkau tanam
dapat menghasilkan aneka buah,
atau memekarkan bermacam bunga.
Wahai Guru tuturmu melantur,
mengapa kau tak kembali ke
pokok perbincangan?
Kita sedang memperlihatkan melanturnya
dirimu, wahai pemendam iri-dengki;
tak kau sadari, keledaimu pincang,
sedangkan kota cahaya sangatlah jauh,
alangkah lambat jalanmu.
Telah sekian tahun kita habiskan;
sudah hampir lewat masa tanam;
tak ada hasil panenmu,
kecuali wajahmu yang menghitam,
dan amalmu yang berbau busuk?
Cacing telah bersarang,
di akar pohon dirimu:
galilah dan bakarlah.
Kuperingatkan lagi, wahai pencari,
waktu telah hampir habis,
hari telah senja,
matahari jelang tenggelam.
Hanya tersisa satu dua hari lagi,
ketika masih tersisa kekuatan pada dirimu,
kepakkan sayapmu dengan bersemangat.
Manfaatkanlah baik-baik sisa benihmu,
agar dari bibit-waktu yang sedikit itu
dapat tumbuh pohon abadi.
Sementara lampu hidupmu belum padam,
kecilkanlah sumbunya,
dan jagalah minyaknya.
Jangan lagi engkau berkata, besok, besok;
sudah terlalu banyak besokmu yang terlewat.
Jangan sampai tiada hari tanam tersisa.
Dengarkanlah nasehatku,
jasmanimu itu yang mengikatmu,
tanggalkan jasmanimu rentamu,
jika kau inginkan pembaruan.
Tutup mulutmu, dan bukalah buah berisikan emas:
tanggalkan keakuanmu,
perlihatkan kemurahanmu.
Kemurahan berarti meninggalkan syahwat dan hawa-nafsu;
orang yang tenggelam dalam hawa-nafsunya,
sulit mentas lagi.
Kemurahan adalah salah satu cabang
cemara di al-Jannah:
malang lah orang yang tak berpegangan
pada cabang semacam itu.
Menanggalkan hasratmu adalah pegangan yang paling kuat:
cabang itu menarik jiwamu ke Langit.
Karena itu jadilah pemurah,
wahai penganut ad-Diin,
sehingga terangkat engkau
ke sumber cabang itu.
Jadikan Yusuf yang cantik
sebagai teladan keindahan jiwamu,
perlakukan alam-dunia ini sebagai sumur,
gunakan kemurahan
dan keberserahan kepada karsa Rabb
sebagai tali untuk mentas ke atas.
Wahai peneladan keindahan Yusuf,
tali telah diturunkan,
raihlah dengan ke dua belah tanganmu;
jangan kau lepaskan, karena hari telah larut.
Berpujilah kepada-Nya ketika tali telah terjulur;
itu dari semesta yang sangat nyata,
tapi tak nampak.
Semesta fenomenal ini,
sebenarnya hanya wujud yang mungkin,
tapi telah menjadi sangat nyata bagimu,
sementara semesta yang sejati,
semakin tersembunyi.
Seperti debu bertaburan dipermainkan angin,
bagaikan fatamorgana yang menghijab.
Yang tampak ramai ini sejatinya hampa dan dangkal,
bagai bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya.
Debu hanya tanda
dari adanya angin:
angin itulah yang bernilai,
dan tinggi derajatnya.
Mata yang tersusun dari tanah-liat,
hanya akan menatap debu;
untuk melihat angin itu
diperlukan penglihatan yang berbeda.
Seekor kuda mengenal kuda yang lain,
karena mereka sejenis:
hanya penunggang kuda dapat mengenali
sesama penunggang.
Yang dimaksud dengan kuda itu
adalah mata syahwatiah,
sedangkah sang penunggang
adalah Cahaya Ilahiah;
tanpa sang penunggang,
kuda itu sendiri tak berguna.
Karena itu latihlah kudamu,
agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya;
jika tidak, dia akan tertolak
dari majelis Sang Raja.
Penglihatan si kuda mendapati jalan,
bersumberkan pandangan Sang Raja;
tanpa pandangan Sang Raja
penglihatan si kuda kehilangan panduan.
Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan,
kecuali ke arah makanan dan padang rumput.
Cahaya Ilahiah itu yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda,
barulah jiwa dapat merindu Rabb.
Tidaklah mungkin kuda tanpa pengendara
dapat membaca tanda-tanda jalan.
Hanya penunggang bermartabat Raja
dapat mengenali jalan Sang Raja.
Tempuhlah arah selaras dengan rasa-jati
yang dikendarai oleh Cahaya,
Cahaya itu pengendara terpercaya.
Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya rasa-jati,
ini salah satu makna dari Cahaya di atas cahaya.
Sumber: Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson

Sunday, November 6, 2016

Sekelumit ulasan ketuhanan

Pengetahuan Tentang Tuhan

Sebuah hadits Nabi (SAW) yang terkenal berbunyi "Dia yang mengenal dirinya, mengenal Allah." Artinya, dengan merenungkan wujud dan sifat-sifatnya, manusia sampai pada sebagian pengetahuan tentang Tuhan. Tetapi karena banyak orang yang merenungkan dirinya tidak juga  menemui Tuhan, berarti bahwa tentulah ada cara-cara tersendiri untuk melakukan hal tersebut.
Kenyataannya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahuan ini. Salah satu di antaranya sedemikian musykil sehingga tidak bisa dicerna dengan kecerdasan biasa dan karenanya lebih baik tidak dijelaskan. Metode yang lain adalah sebagai berikut. Jika seorang manusia merenungkan dirinya, ia akan tahu bahwa sebelumnya ia tidak ada, sebagaimana tertulis di dalam al-Qur'an: "Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa?" Selanjutnya ia ketahui bahwa ia terbuat dari satu tetes air yang tidak mengandung intelek, pendengaran, kepala, tangan, kaki dan sebagainya. Dari sini jelaslah bahwa, setinggi apa pun tingkat kesempurnaannya, ia tidak menciptakan dirinya dan tidak pula ia mampu mencipta seutas rambut sekalipun.
Betapa sangat tak berdayanya ia pada waktu ia baru hanya berupa setetes air itu! Jadi, sebagaimana telah kita lihat pada bab pertama (Pengetahuan Tentang Diri - pen.), dia dapati pada wujudnya sendiri terpantulkan sebagai, katakanlah, suatu miniatur kekuasaan, kebijakan dan cinta Sang Pencipta. Jika semu orang pandai dari seluruh dunia dikumpulkan dan hidup mereka diperpanjang sampai waktu yang tidak terbatas, tidak akan bisa mereka hasilkan perbaikan apa pun atas bangun satu bagian saja dari jasad manusia. Misalnya, pada penyesuaian geligi depan dan samping pada pengunyahan makanan, serta pada bangun lidah, kelenjar-kelenjar air liur dan kerongkongan untuk penelanannya, kita dapati peralatan-peralatan yang tidak bisa dibuat lebih baik lagi.
Demikian pula seseorang yang merenungkan tangan dengan lima jari-jarinya yang tidak sama panjang - empat di antaranya dengan tiga persendian dan jempol yang hanya mempunyai dua - serta dengan cara bagaimana ia bisa dipergunakan untuk mencekal, menjinjing atau memukul, secara terus terang akan mengakui bahwa tidak akan mungkin kebijakan manusia bisa membuatnya lebih baik lagi dengan mengubah jumlah dan aturan jari-jari tersebut, atau dengan jalan lain apa pun. Jika seorang manusia lebih lanjut memikirkan bagaimana beragam keinginannya akan makanan, penginapan dan lain sebagainya, pemenuhannya begitu banyak disodorkan dari gudang penciptaan, ia pun menjadi sadar bahwa rahmat Allah adalah sebesar kekuasaan dan kebijakan-Nya, sebagaimaan Ia sendiri berkata: "Rahmat-Ku lebih luas dari kutukan-Ku." Dan menurut hadits Nabi (SAW), allah lebih lembut penciptaan dirinya sendiri, manusia menjadi tahu akan kemaujudan Tuhan. Dari kerangka tubuhnya yang menakjubkan ia mengetahui kekuasaan dan kebijakkan Allah. Dan lewat karunia yang berlimpah untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, ia mengetahui kecintaan Allah.
Dengan cara ini pengetahuan tentang diri menjadi kunci bagi pengetahuan tentang Allah. Bukan saja sifat-sifat manusia merupakan suatu pantulan sifat-sifat Tuhan, tetapi bentuk kemaujudan jiwa manusia pun menghasilkan suatu wawasan tentang bentuk kemaujudan Allah. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Allah dan jiwa kedua-duanya tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, serta berada di luar pengelompokan-pengelompokan jumlah dan kualitas. Demikian pula gagasan-gagasan tentang bentuk, warna atau ukuran tidak bisa pula dihubungkan dengan keduanya. Orang mengalami kesulitan untuk membentuk suatu konsepsi tentang hakikat semacam itu yang hampakualitas, jumlah, dan sebagainya, padahal kesulitan yang sama terkaitkan pula dengan konsepsi tentang perasaan kita sehari-hari, seperti marah, sakit, senang atau cinta. Semuanya itu adalah konsep-konsep pikiran dan tidak bisa dimengerti oleh indera, sementara kualitas, jumlah dan lain sebagainya adalah konsep-konsep indera.
Sebagaimana telinga tidak bisa mengenali warna, tidak pula mata bisa mengenali suara; dalam ketidakmampuan kita membayangkan hakikat-hakikat puncak, yaitu Allah dan ruh, kita dapati diri kita berada di dalam suatu wilayah di mana konsep-konsep indera tidak bisa ambil bagian. Meskipun demikian, sebagaimana bisa kita lihat, Allah adalah pengatur jagat dan Ia - yang berada di luar ruang dan waktu, kuantitas dan kualitas - mengatur apa-apa yang sedemikian terkondisikan. Begitu pulalah ruh mengatur jasad dan anggota-anggotanya dalam keadaan ia sendiri tidak kasat-mata, tidak terbagi-bagi dan tidak tertempatkan di suatu bagian khusus mana pun. Karena, bagaimana bisa sesuatu yang tidak terbagi-bagi tertempatkan di dalam sesuatu yang bisa tergagi-bagi.
Dari semuanya ini bisa kita lihat betapa benarnya hadits Nabi (SAW): "Allah menciptakan manusia di dalam kemiripan dengan diri-Nya sendiri." Dan setelah kita sampai pada sebagian pengetahuan tentang esensi dari sifat-sifat Allah lewat perenungan akan esensi dan sifat -sifat ruh, maka akan bisa kita pahami metode kerja, pengaturan dan pendelegasian kekuasaan Allah kepada kekuatan-kekuatan kemalaikatan dan sebagainya, yaitu dengan jalan mengamati bagaimana masing-masing kita mengatur kerajaan-kerajaan kecilnya sendiri. Sebagai contoh sederhana, misalkan seorang manusia ingin menulis nama Allah. Pertama sekali keinginan ini terbetik di dalam hati, baru kemudian dibawa ke otak oleh ruh-ruh vital. Bentuk kata "Allah" tergambar di dalam relung-relung otak, kemudian berjalan sepanjang saluran syaraf dan menggerakkan jari-jari yang pada gilirannya menggerakkan pena. Dengan demikian nama "Allah" terguratkan di atas kertas tepat sebagaimana dibayangkan di dalam otak penulisnya. Demikian pula, jika Allah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu tampil di dalam dataran ruhaniah yang di dalam al-Qur'an disebut sebagai "Singgasana" (al-'arsy).
Dari singgasana itu ia berlalu lewat suatu arus spiritual ke arah suatu dataran yang lebih rendah yang disebut kursi (al-kursiy), kemudian bentuknya tampil dalam al-lauh 'al-mahfuzh yang, dengan perantaraan kekuatan-kekuatan yang disebut sebagai "malaikat-malaikat", mewujud dan tampil di atas bumi dalam bentuk tetanaman, pepohonan dan hewan-hewan, sebagai pencerminan keinginan dan pikiran Allah, sebagaimana huruf-huruf yang tertulis mencerminkan keinginan yang terbetik di dalam hati dan bentuk yang hadir di dalam otak sang penulis. Tidak seorang pun bisa memahami seorang raja kecuali seorang raja. Karena itu Tuhan telah menjadikan masing-masing kita sebagai, katakanlah, seorang raja dalam miniatur, atas suatu kerajaan yang merupakan tiruan dari
kerajaan-Nya yang telah disusutkan secara tidak terbatas. Di dalam kerajaan manusia, singgasana Allah dicerminkan oleh ruh, malaikat (Jibril) oleh hati, kursy oleh otak dan lauhul-mahfuzh oleh ruang-gudang pikiran. Jiwa - yang ia sendiri tak tertempatkan dan tak terbagibagi - mengatur jasad sebagaimana Allah mengatur jagad. Pendeknya, kepada kita diamanatkan suatu kerajaan kecil, dan kita diwajibkan untuk tidak ceroboh dalam mengaturnya.
Mengenai pengenalan tentang bagaimana Allah memelihara, ada banyak tingkatan pengetahuan. Ahli fisika biasa, seperti seekor semut yang merangkak di atas selembar kertas dan mengamati huruf-huruf hitam yang tersebar di atasnya, akan menunjukkan "sebab" hanya kepada pena saja. Seorang astronom, seperti seekor semut dengan pandangan agak lebih luas, bisa melihat jari-jari yang menggerakkan pena. Maksudnya, ia mengetahui bahwa bintang-bintang berada di bawah kekuasaan malaikat-malaikat. Jadi, sehubungan dengan berbagai tingkat persepsi orang, perdebatan mesti timbul dalam melacak sebab dari akibat. Orang-orang yang matanya tidak pernah melihat ke balik dunia-gejala, adalah seperti orang-orang yang salah menempatkan hamba-hamba dari tingkatan yang paling rendah ke tingkatan raja. Hukum-hukum tentang gejala mesti tetap atau, jika tidak, tak akan ada sains dan sebagainya; tetapi untuk menempatkan hamba-hamba sebagai majikan adalah suatu kesalahan besar.
Selama perbedaan di dalam fakultas perseptif para pengamat ini masih ada, perdebatan memang mesti perlu berlanjut. Bagaikan beberapa orang buta yang mendengar bahwa seekor gajah telah datang ke kotanya, lantas pergi menyelidikinya. Pengetahuan yang bisa mereka peroleh hanyalah lewat indera perasaan, sehingga ketika seorang memegang kaki sang binatang, yang satu lagi memegang gadingnya dan yang lain telinganya, dan, sesuai dengan persepsi mereka masing-masing, mereka menyatakannya sebagai suatu batangan, suatu tabung yang tebal dan suatu lapisan kapas, masing- masing mengambil sebagian untuk menyatakan keseluruhannya. Jadi, sang ahli fisika dan astronomi mengacaukan hukum-hukum yang mereka tangkap dengan Sang Penetap hukum-hukum.
Kesalahan yang sama dilemparkan kepada Ibrahim di dalam al-Qur'an yang meriwayatkan bahwa ia berturut-turut berpaling kepada bintang-bintahg, bulan dan matahari sebagai obyek-obyek penyembahan, sampai kemudian menjadi sadar tentang Dia yang membuat segala sesuatu, Ibrahim pun berseru: "Saya tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam." (QS 6:76). Kita memiliki sebuah contoh yang sudah umum tentang pengacuan kepada
sebab-sebab kedua apa-apa yang seharusnya diacu kepada Sebab Pertama, yaitu dalam persoalan apa yang disebut sebagai penyakit. Misalnya jika seseorang kehilangan rasa tertariknya apda urusan duniawi, memiliki rasa benci terhadap kesenangan-kesenangan umum, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan berkata: "Ini adalah kasus melankoli yang membutuhkan resep ini dan itu." Seorang ahli fisika akan berkata: "Ini adalah persoalan kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak bisa disembuhkan sampai udara menjadilembab kembali." Sang ahli astrologi akan mengaitkan hal ini dengan konjungsi atau oposisi tertentu planet-planet. "Sejauh jangkauan kebijakan mereka," kata al-Qur'an.
Tidak terbayangkan oleh mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah seperti demikian: bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu, dan oleh karenanya telah memerintahkan hamba-hamba-Nya, yakni planet-planet atau unsur-unsur, agar menciptakan keadaan seperti itu di dalam diri orang tersebut, sehingga ia bisa berpaling dari dunia ke arah Penciptanya. Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan suatu mutiara yang berkilauan dari lautan pengetahuankeilhaman, yang dibandingkan dengannya, semua bentuk pengetahuan lain menjadi bagaikan pulau-pulau di tengah laut. Dokter, ahli fisika dan ahli astrologi tersebut, tak syak lagi memang benar dalam cabang pengetahuan-khususnya masing-masing, tetapi mereka tidak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, suatu tali cinta yang digunakanoleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepada diri-Nya. Tentang para wali ini Allah berfirman: "Aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku." (ini hanya kiasan-pen).
Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentuk-bentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sebagaimana Ia lewat mulut nabi-Nya (SAW): "Penyakit-penyakit itu sendiri adalah hamba-hamba-Ku, dan dikenakan atas pilihan-Ku." Catatan-catatan di atas memungkinkan kita memasuki lebih dalam makna seruan-seruan yang melekat di bibir orang-orang mukmin: "Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar." Mengenai yang terakhir, kita bisa berkata bahwa hal itu tidaklah berarti bahwa Allah lebih besar dari penciptaan, karena penciptaan adalah pengejawantahan-Nya, sebagaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari. Dan akan tidak benar kalau dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya sendiri. Hal itu lebih berarti bahwa kebesaran Allah sama sekali melampaui kemampuan kognitif dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang-Nya.
Jika seorang anak meminta kita untuk menerangkan padanya kesenangan-kesenangan yang ada di dalam pemilikan kedaulatan, kita bisa berkata bahwa hal itu adalah seperti kesenangan-kesenangan yang ia rasakan di dalam bermain-main dengan alat pemukul dan bola, meskipun pada hakikatnya keduanya tidak memiliki sesuatu yang sama kecuali bahwa keduanya termasuk ke dalam katagori kesenangan. Jadi, seruan Allahu akbar berarti bahwa kebesaran-Nya jauh melampaui kemampuan pemahaman kita. Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tidak sempurna seperti itu - sebagaimana yang bisa kita peroleh - bukanlah sekadar suatu pengetahuan spekulatif belaka, tetapi mesti dibarengi dengan penyerahan dan ibadah.
Jika seseorang meninggal dunia, dia berurusan hanya dengan Allah saja. Dan jika kita harus hidup bersama seseorang, kebahagiaan kita sama sekali tergantung pada tingkat kecintaan yang kita rasakan kepadanya. Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah ditumbuhkan dan dikembangkan  oleh ibadah. Ibadan dan zikir yang terus-menerus seperti itu mengisyaratkan suatu tingkat tertentu dari keprihatinan dan pengekangan nafsu-nafsu badaniah. Hal ini tidak berarti bahwa seseorang diharapkan untuk sama sekali memusnahkan nafsu-nafsu badaniah itu, karena jika demikian halnya, maka ras manusia akan musnah. Tetapi batasan batasan yang ketat mesti dikenakan pada usaha pemuasannya. Dan karena manusia bukan hakim yang terbaik dalam kasusnya sendiri, maka untuk menetapkan batasan-batasan apa yang harus dikenakan itu sebaiknya ia konsultasikan masalah tersebut kepada pembimbing-pembimbing ruhaniah. Pembimbing-pembimbing ruhaniah seperti itu adalah para nabi.
Hukum-hukum yang telah mereka tetapkan berdasar wahyu Tuhan menentukan batasan-batasan yang mesti ditaati dalam persoalan-persoalan ini. Orang yang melanggar batas-batas ini berarti "telah menganiaya dirinya sendiri", sebagaimana tertulis di dalam al-Qur'an. Meskipun pernyataan al-Qur'an ini telah jelas, masih ada juga orang-orang yang, karena kejahilannya tentang Allah, melanggar batas-batas tersebut. Kejahilan ini bisa disebabkan karena berbagai sebab. Pertama, ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan, lantas menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban-keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada dari keabadian. Mereka bagaikan seseoran gyang melihat suatu huruf yang tertulis dengan indah kemudian menduga bahwa tulisan itu tertulis dengan sendirinya tanpa ada penulisnya, atau memang sudah selalu ada. Orang-orang dengan cara berpikir seamcam ini sudah terlalu jauh tersesat sehingga berdebat dengan mereka akan sedikit sekali manfaatnya. Orang-orang seperti itu mirip seorang ahli fisika dan astronomi yang kita sebut di atas.
Kedua, sejumlah orang yang, akibat kejahilan tentang sifat jiwa yang sebenarnya, menolak doktrin kehidupan akhrat, tempat manusia akan diminta pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau dihukum. Mereka anggap diri mereka sendiri sebagai tidak lebih baik daripada hewan-hewan atau sayur-sayuran, dan sama sama bisa musnah. Ketiga, di lain pihak, ada orang yang percaya pada Allah dan kehidupan akhirat, tapi hanya dengan iman yang lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri. "Allah itu Maha Besar dan tidak tergantung pada kita; kita beribadah atau tidak merupakan masalah yang sama sekali tidak penting bagi Dia." Mereka berpikir seperti orang sakit yang ketika oleh dokter diberi peraturan pengobatan tertentu kemudian berkata: "Yah, saya ikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu." Tentunya hal ini tidak berakibat apa-apa terhadap dokter tersebut, tetapi pasien itu bisa merusak dirinya sendiri akibat ketidaktaatannya.
Sebagaimana pastinya penyakit jasad yang tak terobati berakhir dengan kematian jasad, begitu pula penyakit jiwa yang tak tersembuhkan akan berakhir dengan kepedihan di masa datang. Sesuai dengan kata-kata al-Qur'an: "Orang-orang yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
Keempat, adalah orang-orang kafir yang berkata: "Syariah mengajarkan kepada kita untuk menahan amarah, nafsu dan kemunafikan. Hal ini jelas tidak mungkin dilaksanakan, mengingat manusia diciptakan dengan kualitas-kualitas bawaan seperti ini di dalam dirinya. Sama saja dengan kamu meminta agar kami jelmakan yang hitam menjadi putih. " Orang-orang jahil itu sama sekali buta akan kenyataan bawha syariah tidak mengajarkan kita untuk mencerabut nafsu-nafsu ini, melainkan untuk meletakkan mereka di dalam batas-batasnya. Sehingga, dengan menghindar dari dosa-dosa besar, kita bisa mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lebih kecil. Bahkan, Nabi saw. berkata: "Saya adalah manusia seperti kamu juga, dan marah seperti yang lain-lain." Dan di dalam al-Qur'an tertulis: "Allah mencintai orang-orang yang menahan amarahnya," bukan orang-orang yang tidak punya marah sama sekali.
Kelima, adalah kelompok yang menonjol-nonjolkan kemurahan Allah seraya mengabaikan keadilanNya, kemudian berkata kepada dirinya sendiri: "Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf." Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah itu bersifat pemaaf, beribu-ribu manusia hancur secara menyedihkan karena kelaparan dan penyakit. Mereka mengetahui bahwa siapa saja yang menginginkan suatu kehidupan, kemakmuran atau kepintaran, tidak boleh sekadar berkata, "Tuhan Maha Pemaaf," tetapi mesti berusaha sendiri dengan keras. Meskipun al-Qur'an berkata: "Semua makhluk hidup rizkinya datang dari Allah," di sana tertulis pula: "Manusia tidak mendapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha." Kenyataannya adalah: ajaran semacam itu berasal dari setan, dan orang-orang seperti itu hanya berbicara dengan bibirnya, tidak dengan hatinya.
Keenam, adalah kelompok yang mengklaim sebagai telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga dosa tidak dapat lagi mempengaruhi mereka. Meski demikian, jika anda perlakukan salah seorang di antara mereka dengan tidak hormat, dia akan menaruh dendam terhadap anda selama bertahun-tahun. Dan jika salah seorang di antara mereka tidak mendapatkan sebutir makanan yang dia pikir merupakan haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya. Bahkan, jika ada di antara mereka benar-benar bisa menaklukkan nafsu-nafsunya, mereka tidak punya hak untuk membuat klaim semacam itu, mengingat para nabi - jenis manusia yang tertinggi - terus-menerus mengakui dan meratapi dosa-dosa mereka. Beberapa di antara mereka mempunyai dosa yang sedemikian besar, sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari hal-hal yang halal.
Pernah diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa suatu hari ketika sebutir korma dibawa kepadanya, beliau tidak mau memakannya hanya lantaran tidak yakin bahwa korma tersebut diperoleh secara halal. Sementara orang-orang yang berkehidupan bebas ini mau meneguk berliter-liter anggur dan mengklaim (saya menggigil pada saat menulis ini) sebagai lebih unggul dari Nabi yang kesuciannya diancam oleh sebutir kurma, sementara mereka tidak terpengaruh oleh anggur sebanyak itu. Patutlah jika setan membenamkan mereka ke dalam kehancuran total. Orang-orang suci sejati mengetahui bahwa orang yang tidak bisa menguasai nafsu-nafsunya tidak pantas disebut sebagai seorang manusia. Dan bahwa seorang muslim sejati  adalah orang yang dengan senang hati mau mengakui batas-batas yang ditetapkan oleh syariah.
Orang yang berupaya dengan dalih apa pun untuk mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sudah jelas berada dalam pengaruh setan dan pura telah tenggelam di dalam lautan ketakjuban. Tetapi kepada mereka tentang apa yang mereka takjubkan, mereka Mereka mesti disuruh agar takjub semau mereka, tetapi agar mengingat bahwa Yang Maha Kuasa adalah penciptan mereka adalah abdi-abdi-Nya.

Monday, October 24, 2016

PERJALANAN HIDUP MANUSIA

Perjalanan Hidup Manusia


Firman Allah SWT 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
DIA lah Allah SWT Yg telah menciptakan Kematian dan kehidupan utk menguji kalian, Siapakah dari kalian yg terbaik amal perbuatannya, DIA lah Allah SWT Yg Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.S.Al-Mulk ayat 2)
*
Pada saat mati yg pertama, jasad blm ada namun Ruh sdh ada dan hidup di Alam Ruh. 
*
Pada saat hidup yg pertama Ruh dimasukan kedalam jasad , sehingga jasad tersebut bisa hidup (Alam kandungan). 
*
Pada saat di alam Dunia, Ruh dan Jasad mendapatkan Tugas dari Sang Kholiq utk melakukan Ibadah, dari Pelaksanaan tugas akan ketahuan lah siapa diantara Manusia yg paling baik Amalnya (أيكم أحسن عملا)
*
Firman Allah SWT:

Dan tidaklah AKU ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya utk beribadah kpd-KU
*
Pada saat mati yg kedua, Ruh dikeluarkan dari jasad , sehingga jasad tersebut mati, namun Ruh tetap hidup dan disimpan di Alam Barzakh.
*
Jasad yg telah ditinggalkan oleh Ruh akan mati dan musnah ditelan bumi dan akan hancur dimakan ulat2 Belatung, kecuali jasad orang2 yg di pilih oleh Allah SWT
*
Pada saat hidup yg kedua, Allah SWT menciptakan jasad yg baru dihari berbangkit (يوم البعث), jasad yg baru itu akan hidup setelah Allah SWT memasukan Ruh yg selama ini disimpan di Alam Barzakh kedalam tubuh tersebut.
*
Kehidupan yg kedua ini adalah kehidupan yg abadi, tak ada lagi kematian atau perpisahan antara Ruh dg jasad sesudah itu.
*
Kalau kita amati proses hidup dan mati diatas ternyata yg mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad, sedangkan Ruh tak pernah mengalami kematian dan musnah. 
PERJALANAN HIDUP MANUSIA

*
Ruh tetap hidup selamanya, ia hanya berpindah pindah tempat, mulai dari Alam Ruh, Alam Dunia, Alam Barzakh dan terakhir di Alam Akhirat.
*
Pada saat datang kematian pada seseorang yg sedang menjalani kehidupan di Dunia ini, maka yg mengalami kematian hanyalah jasadnya saja, sedangkan Ruhnya tetap hidup di Alam Barzakh.
*
Allah mengingatkan hal tersebut kpd kita

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang2 yg gugur di jalan Allah, (bhw mereka itu mati) padahal sebenarnya mereka itu hidup, tapi kamu tak menyadarinya. (Q.S.Al-Baqarah 154)
*
Perjalanan panjang tanpa akhir
Kalau kita amati proses perjalan hidup dan mati seperti yg disebutkan diatas, maka yg mengalami kematian hanyalah jasad kita saja, sedangkan Ruh tak pernah mengalami kematian.
*
Sejak diciptakan pertama kali dan diambil kesaksiannya tentang ke Esaan Allah ketika dikumpulkan dialam Ruh sebagaimana disebutkan dlm surat Al A’raaf 172,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
"
Mlailah Ruh menempuh perjalanan panjang yg tak akan pernah berkahir.
*
Sifat Ruh sama seperti energy dlm ilmu fisika kita mengenal teori kekekalan Energy. 
*
Teori kekalan Energy mengatakan bhw Energy bersifat kekal, tak bisa dimusnahkan, dihancurkan ataupun dilenyapkan.
*
Ia hanya mengalami perubahan bentuk.
*
Ruh memiliki sifat seperti Energy ini, ia tak bisa dimusnahkan, dilenyapkan ataupun dihancurkan, ia kekal selamanya, ia hanya berubah bentuk mulai dialam Ruh, Alam Dunia, Alam Barzakh dan Alam Akhirat kelak.
*
Kita bisa merasakan selama hidup di Dunia ini bhw Ruh kita tak pernah tidur atau beristirat.
*
Kalau kita tidur pada malam hari, yg tidur adalah jasad atau jasmani kita sedang Ruh kita sendiri, pergi berjalan entah kemana. 
*
Ruh tak bisa hancur, musnah dan lenyap namun ia bisa merasa lemah, sakit dan menderita.
*
Ruh yg kurang mendapat perawatan dan asupan vitamin Nutrisi yg cukup, akan menjadi lemah menderita dan sakit. 
*
Penyakit Ruh umumnya akan merembes pada penyakit fisik atau jasmani
"
Penyakit Ruh yg umum kita kenal antara lain, gelisah, kecewa, dengki, cemas, takut, sedih, tertekan dan stress berkepanjangan.
*
Ruh mengalami proses pendewasaan selama hidup di Dunia.
*
Semua bekal yg dibawa utk perjalanan hidup di Alam barzakh dan Akhirat didapat dari Alam Dunia.
*
Namun sayang selama hidup di Dunia banyak orang yg tak memperdulikan kebutuhan Ruhnya utk menghadapi perjalan panjang yg tak akan pernah berakhir ini. 
*
Kebanyakan Manusia hanya fokus pada masalah kehidupan Dunia, dan tak perduli dg masalah kehidupan Akhirat yg lebih dahsyat dibandingkan dg kehidupan dunia.
*
Coba kita ingat2, ketika fisik kita sakit, lemah, wajah keriput, kulit kusam, wajah penuh jerawat, kita langsung peduli dan segera mencari dokter spesialis yg dapat mengobati semua penyakit fisik kita walaw pun harus mengeluarkan biaya yg tak sedikit, bahkan terkadang sampai berobat ke luar negeri
*
Tapi kalau Ruhani kita yg sakit, Dendam, Iri hati, Dengki, Ujub, Riya', Sum'ah, Sombong, maka kita tak segera mengobatinya bahkan kita biarkan penyakit2 itu terus tumbuh menggerogoti Ruhani kita.
*
Padahal kita tahu bhw Fisik kita bisa hancur termakan tanah dan ulat belatung yg ada di Kuburan.

اللهم أجرنا من عذاب القبر وفتنته
*
Obat mujarab utk Ruh dan Vitamin Nutrisi yg paling bagus adalah dg cara mendekati Ulama Sholeh, hadir di Majelis Ilmu, Majlis Dzikir, membaca Al-Qur'an, Istighfar, Shalawat dan Kalimah2 Thayyibah.
*
Maka dg demikian, amalan yg kita lakukan akan mendapat Nilai khusus dari Allah SWT dan Kita akan di golongkan DIA sebagai Manusia pilihan

رب فاجعلنا من الأخيار
Ya Robb,,,,
Jadikanlah kami, termasuk dari golongan hamba-MU yg terbaik
*
Smg bermanfaat
Salam Cinta......

Monday, October 10, 2016

Rinduku

Burdah Habib syeh ajiiib
Cinta Sang Kekasih 
Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam. 
Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah. 
Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah. 
Dan kilat berkilau di lembah Idlam dalam gulita malam. 
Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah. 
Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah. 
Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya. 
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora. 
Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing rumahnya. 
Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam. 
Dapatkah kau pungkiri cinta, sedang air mata dan derita. 
Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta. 
Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah. 
Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah. 
Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga. 
Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita. 
Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku. 
Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.
Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku. 
Padahal tidak juga kunjung sembuh penyakitku. 
Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya. 
Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya. 
Aku kira ubanku pun turut mencelaku. 
Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. 
Peringatan akan Bahaya Hawa Nafsu 
Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan. 
Sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan. 
Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu. 
Sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu. 
Jika kutahu ku tak menghormati uban yang bertamu. 
Kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu. 
Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan. 
Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang. 
Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat. 
Sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap. 
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. 
Bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu. 
Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa. 
Jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela 
Gembalakanlah ia, ia bagai ternak dalam amal budi. 
Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai. 
Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan. 
Tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan. 
Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat. 
Kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul. 
Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan. 
Tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau lurus. 
Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah. 
Tiada aku dan puasa kecuali hanya yang wajib saja. 
Pujian Kepada Nabi SAW 
Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam. 
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram. 
Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu. 
Dan dengan batu mengganjal Perutnya yang halus itu. 
Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya. 
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga. 
Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya. 
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya. 
Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia. 
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada. 
Muhammadlah pemimpin dunia akherat. 
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab. 
Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar. 
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak. 
Dialah kekasih Allah yang syafa’atnya diharap. 
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap. 
Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus. 
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus. 
Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa. 
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya. 
Para Nabi semua meminta dari dirinya. 
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya. 
Para Rasul sama berdiri di puncak mereka. 
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya. 
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya. 
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia. 
Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi. 
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi. 

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya. 
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka. 
Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu. 
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau. 
Karena keutamaannya sungguh tak terbatas. 
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata. 
Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya. 
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya. 
Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal. 
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang. 
Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi. 
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti. 
Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan. 
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan. 
Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi 
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi 
Puncak Pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia 
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah 
Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya 
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka 
Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita 
Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti 
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri 
Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama 
Kedermawanannya bak lautan, kegairahannya bak sang waktu 
la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan 
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan 
Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya 
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya 
Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya 
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya 
Kelahiran Sang Nabi SAW 
Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya 
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya
Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa 
Peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka . 
Dimalam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah 
Sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah 
Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam 
Sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam 
Penduduk negeri sawah bersedih saat kering danaunya 
Pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga 
Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api 
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi 
Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar 
Kebenaran pun tampak dari makna kitab suci maupun terujar 
Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan 
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan 
Setelah para dukun memberi tahu mereka 
Agama mereka yang sesat takkan bertahanlama 
Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh dilangit 
Seiring dengan runtuhnya semua berhala dimuka bumi 
Hingga lenyap dan pintu langitNya 
Satu demi satu syetan lari tunggang langgang tak berdaya 
Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah 
Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul 
Batu yang Nabi lempar sesudah bertasbih digenggamannya 
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dan perut ikan paus 
Mukjizat Sang Nabi SAW 
Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukkan 
Berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan 
Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan 
Tulisan yang indah di tengah-tengah jalan Seperti juga awan gemawan yang mengikuti Nabi 
Berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari 
Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan 
Sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan 
Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan. Sebab Nabi 
dan Abu Bakar di dalamnya, kaum kafir tak lihat mereka 
Nabi dan Abu Bakar Shiddiq aman didalamnya tak cedera 
Kaum kafir mengatakan tak seorang pun didalam gua 
Mereka mengira merpati takkan berputar diatasnya 
Dan laba laba takkan buat sarang jika Nabi didalamnya 
Perlindungan Allah tak memerlukan berlapisbaju besi 
Juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi 
Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi 
Niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti 

Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya 
Melainkan kuperoleh sebaik-baik pemberiannya 
Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi 
Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena 
Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya 
Karenanya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya 
Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari 
Dan tidaklah seorang Nabi dalam berita gaibnya dicurigai 
Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit 
Dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan 
Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan 
Bagai titik putih di masa-masa hitam kelam 
Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah 
Atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah 
Kemulian Al-Qur’an dan pujian terhadapnya 
Biarkan kusebut beberapa mukjizat yang muncul pada Nabi 
Seperti nampaknya api jamuan, malam hari diatas gunung tinggi 
Mutiara bertambah indah bila ia tersusun rapi 
Jika tak tersusun nilainya tak berkurang sama sekali Segala pujian itu puncaknya adalah memuji 
Sifat dan pekerti mulia yang ada pada Nabi 
Ayat ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah adalah baharu 
Tapi Allah adalah kekal tak kenal waktu 
Ayat-ayat yang tak terikat waktu dan kabarkan kita
Tentang hari kiamat, kaum ‘Aad dan negeri Irom 
Ayat ayat yang selalu bersama kita dan mengungguli 
Mukjizat para Nabi yang muncul tapi tak lestari 
Penuh kepastian dan tak sisakan bagi para musuh segala keraguan. 
Ayat yang tak sedikit pun menyimpang dari kebenaran 
Tak satu ayat pun ditentang kecuali musuh terberatnya 
Akan kembali kepadanya dengan salam dan beriman 
Keindahan sastranya membuat takluk penentangnya 
Bak pencemburu membela kehormatan dari tangan pendosa 
Baginya makna-makna yang saling menunjang bak ombak lautan 
Yang nilai keindahannya melebihi mutiara berkilauan 
Keajaibannya banyak dan tak terhingga 
Dan keajaiban itu tak satu pun membuat bosan kita 
Teduhlah mata pembacanya, lalu kukatakan padanya 
Beruntunglah engkau, berpeganglah selalupada taliNya 
Jika kau baca ia karena takut panas neraka Lazha 
Padamlah panas neraka Lazha karena kesejukannya 
Bagai telaga Kautsar wajah pendosa jadi putih karenanya Padahal dengan wajah hitam arang mereka datangi ia 
la lurus bagai shirath, adil bagai timbangan 
Kitab kitab lain takkan selanggeng ia dalam keadilan 
Jangan heran pada pendengkinya yang selalu ingkar 
Pura-pura bodoh padahal ia cukup paham dan pintar 
Bagai orang sakit mata yang pungkiri sinar mentari 
Bagai orang sakit yang lezatnya air ia pungkir


Qashidah Burdah

Saturday, October 8, 2016

SYUHADA KEMERDEKAAN MP3

Assalaamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh...

Insya Alloh kali ini saya akan memuat titipan Sahabat dari grup DASI, berupa mp3 buat mensupport semangat kaum santri yang akan diperingati pada tanggal 22 Oktober mendatang.

Ini sya'irnya....
*LAGU HARI SANTRI 2016*

Alhamdulillah....
Proses Recording akhirnya dapat diselesaikan.

Inspirasi dari Syair Kemerdekaan
Karya KHR.  Asnawi Kudus.
selanjutnya ditulis dengan beberapa penyesuaian
Oleh M. Ridwan Taiyeb
Arr. & Vokal :  Nova DS dan Tim
(Semoga Allah melimpahkan Berkah untuk semua)


SYUHADA KEMERDEKAAN
Karya : M. Ridwan Taiyeb
Arr & Vocal : Nova DS dan Tim

Sungguh Telah Nyata Kemerdekaan Indonesia
Bergembiralah dan  Bersyukurlah
Selamanya

Butuh Perjuangan
Dengan Darah dan Kepedihan
Butuh Pengorbanan
Dengan Jiwa dan Raga
Terpenjara

Miliki  Jiwa  Suci Mulia
Jiwa Kebangsaan
Ikhlas Berkhidmah
Berjuang dan Berkorban
Secara Nyata

Khidmahkan Diri
Untuk Perjuangan
Demi Bangsa dan Negara 2x

Merdekalah Indonesia Raya !!!

Butuh Perjuangan
Dengan Darah dan Kepedihan
Butuh Pengorbanan
Dengan Jiwa dan Raga
Terpenjara

Demi Kemerdekaan

Miliki  Jiwa  Suci Mulia
Jiwa Kebangsaan
Ikhlas Berkhidmah
Berjuang dan Berkorban
Secara Nyata

Khidmahkan Diri
Untuk Perjuangan
Demi Bangsa dan Negara 2x

Jagalah dan isi kemerdekaan
Tegakkan demokrasi
Wujudkan keadilan sosial dan
kemakmuran negeri

Khidmahkan Diri
Untuk Perjuangan
Demi Bangsa dan Negara 2x

Semoga Allah
Membalas segala Khidmah
Syuhada ......
Kemerdekaan.....
--------------
Dan silahkan di download mp3nya gak pake ribet dan monggo tinggal Download
Dan silahkan sebarkan pada santri² yang laen biar tambah semangat dalam berjuang.
ALLOOHU AKBAR...




Sunday, September 25, 2016

APA ITU DAKWAH....???



1. Da'wah itu mengajak bukan mengejek..

2. Da'wah itu membina bukan menghina.

3. Da'wah itu mendidik bukan membidik'

4. Da'wah itu mengobati, bukan menyakiti.

5. Da'wah itu mengukuhkan bukan meruntuhkan.

6. Da'wah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

7. Da'wah itu menyejukkan bukan memanaskan.

8.Da'wah itu mengajar bukan menghajar.

9. Da'wah itu belajar menata diri bukan bertengkar dan mengiri

10. Dakwah itu menasehati bukan mencaci maki.

11. Dakwah itu merangkul bukan memukul.

12. Dakwah itu ngajak bersabar bukan ngajak mencakar.

13. Da'wah itu argumentative dan pro aktif bukan egoisme dan provokatif. 

14. Da'wah itu bergerak cepat, bukan berleha leha dan banyak berdebat. 

15. Da'wah itu realistis bukan fantastis.

16. Da'wah itu mencerdaskan orang bodoh bukan membodohkan dan memperbodoh 

17.Da'wah itu menawarkan solusi bukan cari sensasi

18. Da'wah itu siap berkorban bukan cari uang dan jabatan

19. Da'wah itu meninggikan derajat bukan menjatuhkan martabat..

20. Da'wah itu menyelamatkan dan membangun kemaslahatan kehidup bukan mencelakakan dan membunuh yg hidup.. 

21. Da'wah itu menguntungkan dan membahagiakan bukan merugikan dan membingungkan.. 

22. .Da'wah itu menghadapi masyarakat bukan membelakangi masyarakat. 

23. Da'wah itu memperbarui masyarakat bukan membuat masyarakat baru. 

24. Da'wah itu berinisiatif positif aktif dan produktif bukan khayalan fiktif negatif dan pasif.

25. Da'wah itu mengatasi keadaan bukan meratapi kenyataan.

26. Da'wah itu pandai memikat bukan mahir mengumpat.

27. Da'wah itu menebar kebaikan bukan mengorek kesalahan.

28. Da'wah itu menutup aib dan memperbaikinya bukan mencari2 aib dan menyebarkannya. 

29. Da'wah itu menghargai perbedaan bukan memonopoli kebenaran.

30. Da'wah itu mendukung semua program kebaikan bukan memunculkan kecurigaan dan keraguan. 

31. Da'wah itu menabur senyum manis bukan bersikap bengis.

32. Da'wah itu mewujudkan Kasih sayang bukan membenci dan menendang. 

33. Da'wah itu mengatasi masalah Umat dengan cara yg manis bukan menjadi hakim jalanan dan gampang memvonis. 

34. Da'wah itu bersusah payah menanggung problema umat bukan memayahkan dan membebani umat. 

35. Da'wah itu menyatukan kekuatan bukan memecah belah barisan ..

37. Da'wah itu kompak dalam perbedaan bukan memecah dengan perdebatan.

38. Da'wah itu siap menghadapi musuh bukan mencari musuh.

39. Da'wah itu memperbanyak teman bukan mencari lawan..

40. Da'wah itu melawan kesesatan dan meluruskannya dengan cara Kenabian bukan mengkelirukan haq dan batil dengan cara kesyetanan.. 

41. Da'wah itu asyik dalam kebersamaan bukan bangga dengan kesendirian.. 

42. Da'wah itu menampung dan mengayomi semua lapisan bukan memberantakan persatuan.

43. Da'wah itu membangun Cinta dan Kasih sayang bukan menabur benci dan garang.. 

44. Da'wah itu kita mengatakan: "Mari bersama kami" bukan "Kamu harus ikut kami". 

45. Da'wah itu biaya sendiri bukan ingin dibiayai atau disponsori.

46. Da'wah itu "Habis berapa ?" bukan "Dapat berapa ?"

47. Da'wah itu "Mendatangi bukan ingin didatangi..

48. Da'wah itu siap dicaci bukan ingin dipuji..

48. Da'wah itu menghidupkan Sunnah Nabi bukan mencontohkan sifat pribadi.. 

49. Da'wah itu disemua waktu dan tempat bukan hanya di pesantren saja atau di majlis ta'lim yg mengikat.. 

50. Da'wah itu dengan seluruh fasilitas yg ada di bumi bukan dengan fasilitas hobi kami".. 

51. Da'wah itu memperlihatkan kebenaran bukan mempertontonkan keegoan... 

52. Da'wah itu sibuk dengan do'a dzikir dan fikir bukan bersandar kepada sebab semata atau pemikiran orang kafir.. 

53. Da'wah itu dengan Wahyu Allah dan Sunnah Nabi bukan dengan ilmu akal semata apalagi dengan hawa nafsu pribadi... 

54. Da'wah itu dengan Akhlaq terpuji dan Amal Soleh juga Kalimat Toyyibah bukan hanya dengan ceramah dan perintah ..

55. Da'wah itu saling tolong bukan saling todong..

56. Da'wah itu mengislahkan pertikaian bukan menyulut permusuhan..

67. Da'wah itu menyehatkan jasmani dan ruhani Umat bukan menularkan penyakit pada masyarakat.. Wallaahu A'lam bisshowaab

Selamat berda'wah " semoga Mendapat Pertolongan Allah..
Semoga manfa'at..
alfaqiir walhaqiir:
muhammad muhyiddin abduLQodir
khodim Ummah jg para Tolabah Pontren Internasional Islam Ahlussunnah Waljamaah Asysyifaa Walmahmuudiyah Di Simpang Pamulihan Sumedang Jawa Barat

Friday, August 26, 2016

KATA MUTIARA

جالس العلماء بعقلك

```Duduklah bersama Ulama dengan akalmu.```

وجالس الامراء بعلمك

```Duduklah bersama Pemimpin dengan ilmumu.```

وجالس الاصدقاء بأدبك

```Duduklah bersama teman dengan adab/etikamu.```

وجالس أهل بيتك بعطفك

```Duduklah bersama keluarga dengan kelembutanmu.```

وجالس السفهاء بحلمك

```Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu.```

وكن جليس ربك بذكرك

```Jadilah "teman" Allah dengan mengingatiNYA.```

وكن جليس نفسك بنصحك

```Dan jadilah teman bagi dirimu sendiri dengan nasihatmu.```

لا تَحزنْ على طيبتك؛ فَإن لَم يُوجَد في الارض مَن يقدرها؛ ففي السَماء مَن يباركهَا…

```Tidak perlu bersedih jika di dunia tidak ada yg menghargai kebaikanmu, kerana dilangit ada yg mengapresiasinya.```

حياتنا كالورود فيها من الجمال ما يسعدنا وفيها من الشوك ما يؤلمنا.

```Kehidupan kita ibarat mawar,  disamping memiliki keindahan yg membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang boleh kita tersakiti.```

ما كان لك سيأتيك رغم ضعفك.!!

```Apa yang ditetapkan bagimu nescaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya.```

وما ليس لك لن تناله بقوتك.!!

```Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya meski dengan kekuatanmu.```

لا أحد يمتاز بصفة الكمال سوى اللہ. لذا كف عن نبش عيوب الآخرين.

```Tidak seorangpun yg memiliki sifat sempurna selain Allah, oleh kerana itu berhentilah dari menggali aib orang lain.```

الوعي في العقول وليس في الأعمار، فالأعمار مجرد عداد لأيامك، أما العقول فهي حصاد فهمك وقناعاتك في حياتك..

```Kesedaran itu pada akal, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu terhadap kehidupanmu.```

كن لطيفاً بتحدثك مع الآخرين، فالكل يعاني من وجع الحياة وأنت ﻻتعلم.

```Berlemah-lembutlah ketika berbicara dengan orang lain, kerana setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.```

كل شيء ينقص إذا قسمته على اثنين إلا "السعادة"
فإنها تزيد إذا تقاسمتها مع الآخرين.

```Semua hal akan berkurang jika dibahagi menjadi 2, kecuali KEBAHAGIAAN, justeru akan bertambah jika kamu berikan kepada yang lain.```

وصية الشنقيطي من اروع ما قد تقرأه اليوم

```Wasiat Syaikh As-Syanqithi, diantara hal yang paling menarik yang engkau baca pada hari ini.``` 😊

Ngaji

Kaji diri,,,,,,,,

Seorang bocah bertanya “Bisa gak, aku jadi dokter” lalu dokternya bilang “bisa aja, asal kamu belajar yg rajin dan tdk nakal”.
*
Sebuah kalimat yg ajaib buat motivasi anak kecil utk belajar padahal si dokter gak ngajarin gimana cara belajar utk jadi dokter.
*
Maka dari itu, kita ambil kesimpulan kalau sianak itu memandang si dokter emang udah jadi dokter dan dia hebat
*
Makanya setiap kata2 dokter tadi buat sianak jadi kata2 motivasi segar yg harus didengar kalo pengen jadi dokter, padahal tukang parkir pun bisa ngomong kayak gitu.
*
Pernah liatin orang demo gak?
Maksudnya unjuk rasa gitu. Nah, kan disitu mereka menuntut perubahan, bisa perubahan ekonomi ataupun perubahan lainnya yg bisa ngubah dunia ini katanya.
*
Oke “mengubah Dunia”, tapi apa benar gak sih mereka udah melakukan hal2 yg bisa mengubah dunia?.
*
Oke mereka udah menyuarakan pendapat mereka dg berbicara ditempat umum atau SosMed.
*
Tapi, apa didengar oleh orang lain dan bisa mengajak orang2 buat ngelakuin yg mereka mau.
*
Menurut saya, orang2 yg suaranya memang didengar adalah mereka yg memang udah menanamkan kepedulian mereka dg apa yg udah mereka lakukan, jadi orang melihat mereka sebagai orang yg patut utk didengar.
*
Jadi selama ini kita belajar mati2an cuma utk belajar ngomong didepan khalayak ramai, itu salah ya?.
*
Gak salah tapi belajar bukan cuma caranya berbicara tetapi bagaimana caranya didengar.
*
Kalo omongan kita sdh didengar maka kita akan bisa mengubah Dunia.
*
Jangan cuma teriak ditempat umum atau men-share pendapat orang utk mengubah Dunia, tapi kita sendiri belum cukup peduli utk melakukan gerakan yg dapat merubah keadaan sesuai dg keinginan kita
*
Kita gak akan bisa mengubah Dunia kalo kita belum cukup peduli dg memperbaiki lingkungan atau melakukan gerakan2 perbaikan.
*
Kita baru pintar menilai, mengoreksi dan menyalahkan tapi blm mampu berbuat.
*
Daripada cuma mengagung-agungkan orang2 yg punya rasa peduli yg tinggi kpd Dunia, mendewakan mereka yg bekerja keras utk upaya perdamaian, memuji para pemikir yg mewujudkan keadilan mendingan ikutan sadar bhw hidup ini terlalu singkat kalau cuma utk mendengar kisah hebat orang lain
*
Ambil bagian kita.
Buat kisah tentang perjuangan kita
Jadilah orang yg berguna buat orang lain.

خير الناس أنفعهم الناس
*
Smg bermanfaat
Salam Cinta.....

Friday, August 19, 2016

Dawuh Tuan Habib

Ambar setiawan:
Dalam berbagai kesempatan Maulana Habib Luthfi bin Yahya tak henti-hentinya menitipkan pesan yang sangat penting bagi penerus bangsa Indonesia perihal Pancasila, Nasionalisme, Merah-Putih, Cinta Tanah Air, dan NKRI. Berikut adalah diantara pesan-pesan beliau:

1. “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?"

2. "Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda."

3. "Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama."

4. "Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa."

5. “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI."

6. “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya."

7. “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam'iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik."

8. “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran."

9. "Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral 'ini' adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun."

10. “Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt. untuk memiliki Bangsa Indonesia.”

11. “Bendera Merah Putih adalah harga diri Bangsa, kehormatan Bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri Bangsa, pada sang saka Merah Putih.”

12. “Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih. Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?”

13. “Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih. Sehingga sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.”

14. “Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.”

15. “Yang memperjuangkan Bangsa ini adalah para ulama, kiai dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan Bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan Negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

16. “Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah. Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan. Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.”

17. “Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam, seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu. Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini. Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.”

18. “Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di beck-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.”

19. “Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penajajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang. Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.”

20. “Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka Bangsa dan Negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll., pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja. Saya tidak melarang ‘kritik’, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.”

21. “Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah. Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.”

HIKMAH

Menggali Hikmah,,,,

Kata GAMELAN berasal dari bahasa Jawa "GAMEL" yg berarti memukul/ menabuh, diikuti akhiran "AN" yg menjadikannya sebagai kata benda.
*
Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti satu kesatuan alat musik yg dimainkan bersama
*
GAMELAN mengandung filosofi :

G (Gusti),
A (Alloh),
M (Maringi, memberi),
E (Emut-ingat),
L (Lakonono, jalankan),
A (Ajaran),
N (Nabi).  
*
Kendhang :  berasal dari kata Kendhali dan Padang yg artinya adalah keinginan harus dikendalikan dg pikiran dan hati yg bersih.
*
Setiap kita mempunyai keinginan lakukanlah dg pikiran yg jernih, penuh kepositifan.
*
Diimbangi dg hati yg bersih, dg tujuan bhw keinginan ini akan membawa kebaikan bagi orang banyak.
1. Gong :  yg berarti agung / besar. Mengandung makna bhw Allah itu Maha Besar.
*
Segala sesuatu bisa terjadi bila ada ijin dari Allah.
Kejadian itu adalah utk mengingatkan kita akan Kebesaran Kuasa Allah
*
2.   Bonang :  dari kata babon dan menang. Yang mengandung arti bhw kemenangan sejati adalah melawan hawa nafsu pada diri kita.
*
Kendalikanlah diri kita, jangan mudah terpancing dan gampang menuruti hawa nafsu.
*
Karena sejatinya Pemenang adalah orang yg mampu mengontrol hawa nafsu.
*
3. Panembung : yg berarti meminta.
Bhw bila kita menginginkan / meminta sesuatu hanya kpd Allah.
*
Mintalah hanya kpd-Nya.
Jangan pernah meminta sesuatu selain kpd Allah.
Jangan pernah menyekutukan Allah
*
4. Penerus  : artinya adalah anak keturunan. Ini mengandung makna bhw ajaran dan dakwah Islam wajib diteruskan oleh keturunan kita.
*
5. Saron : artinya adalah seru atau keras. Segala usaha dlm da'wah dlm islam harus dilakukan dg kerja keras dan pantang putus asa
*
6. Gambang : artinya adalah gamblang atau jelas.
Mengandung makna bhw dakwah yg diberikan harus jelas, sehingga maksud dan pesannya tersampaikan dg sangat jelas, gamblang dan bisa dimengerti.
*
Hal ini bertujuan utk mengantisipasi akan kesalahpahaman dlm penerimaannya.
*
7. Suling : berasal dari kata nafsu dan eling. Artinya adalah kita harus selalu ingat (eling) kpd Allah utk mengendalikan nafsu kita.
*
Cara membunyikan GAMELAN:
1. Digebuk : Bedhuk, Kendang
2. Dipukul : Gender, Gambang, Kemanak, Kecer, Saron, Bonang, Kenong, Kempul, Gong.
3. Digesek : Rebab
4. Dipetik : Celempung dan Sitter
5. Ditiup : Suling.
*
FILOSOFI BUNYI GAMELAN dari :
Kempul atau Kenong dan Bonang yg menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.
NENG (meNENG, diam),
NING (weNING, berfikir)
NUNG (ndhuNUNG, berdo’a),
NANG (meNANG, Kemenangan)
NONG (Tuhan).
Di antaranya dg laku prihatin utk meraih kemenangan melalui 4 tahapan yg harus dilaksanakan secara tuntas.
*
Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dlm nada suara salah satu instrumen Gamelan Jawa yg dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yg menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.
*
1. Neng; artinya jumeneng (berdiri), sadar atau bangun utk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi. 
*
Konsentrasi utk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dlm frekuensi  gelombang Tuhan.
*
2. Ning; artinya dlm jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dg daya rasa- sejati yg menjadi sumber cahaya nan suci.
*
Tersambungnya antara cipta dg rasa akan membangun keadaan yg wening.
*
Dalam keadaan “mati raga”  kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yg hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun  jiwa tetap terjaga dlm kesadaran batiniah.
*
Sehingga  kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.
*
3. Nung; artinya   kesinungan.
Bagi siapapun yg melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan dipilih) utk mendapatkan anugerah agung dari Tuhan Yg Mahasuci.
*
Dalam Nung yg sejati, akan datang cahaya Yang Mahasuci melalui rasa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kpd jiwa, utk diolah oleh jasad yg suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama).
*
Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat utk orang banyak.
*
4. Nang; artinya menang; orang yg terpilih dan dipilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya.  sehingga amal perbuatan baik yg tak  terhitung lagi akan menjadi benteng utk diri sendiri.
*
Ini merupakan buah kemenangan dlm laku prihatin.
Kemenangan yg berupa anugrah, kenikmatan, dlm segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yg dapat memberi manfaat (rahmat) utk seluruh makhluk serta alam semesta.
*
Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu merasa berkecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dlm hidup (meraih ilmu Ladunni).
*
Neng adalah Syariatnya, Ning adalah Tarekatnya, 
Nung adalah Hakekatnya, Nang adalah Makrifatnya.
*
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Siapa saja yg telah mengenal nafs (diri) nya, maka dekat kemungkinan dia mengenal Robbnya.
*
ومن عرف ربه جهل نفسه
Siapa saja yg telah mengenal Robbnya maka dia akan merasa bodoh.
*
من طلب مولانا بغير نفي فقد ضل ضلالا بعيدا
Siapa saja yg mencari Pengatur alam semesta keluar dari dirinya sendiri maka dia akan tersesat semakin jauh.
*
إقرأ كتاب البقاء كفى بنفسك اليوم حسب
Bacalah kitab yg kekal yg berada di dlm diri kalian sendiri.
*
Met merenung
Smg bermanfaat
Salam Cinta.......

Faidah membaca shalawat

2336. FAEDAH BERSHOLAWAT KEPADA NABI SAW
Oleh: Ayi Yuniar (Di ambil dari PISS-KTB, Versi lama)

وذكر أبو نعيم في الحلية: «أنَّ رَجُلاً مرّ بالنَّبي وَمَعَهُ ظَبْيٌ قَدِ اصْطَادَهُ، فَأَنْطَقَ الله سُبْحَانَهُ الَّذِي أنْطَقَ كُلَّ شَيْء الظَّبيَ، فَقَالَ يَا رَسُولَ الله: إنّ لي أوْلاداً وأنَا أُرْضِعُهُمْ، وَإِنَّهُمُ الآن جِيَاعٌ، فَأْمُرْ هاذا أنْ يُخْلِينِي حَتَّى أذْهَبَ فَأُرْضِع أَوْلادِي وَأَعُود. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَعُودِي؟ قَالَتْ: إنْ لَمْ أَعُدْ فَلَعَنَنِي الله كَمَنْ تُذْكَر بَيْن يَدَيْهِ فَلا يُصَلِّي عَلَيْكَ. فَقَالَ النَّبيُّ أطَلِقْها وَأَنَا ضَامِنُها فَذَهَبَت الظَّبيَةُ ثُمَّ عَادَتْ، فَنَزِلَ جِبْريلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ الله يُقْرِئُكَ السَّلامَ وَيَقُولُ: وَعِزَّتِي وَجَلالِي لأنَا أَرْحَمُ بِأُمّتِكَ مِنْ هاذِهِ الظَّبِيَةِ بِأَوْلادِهَا وَأَنَا أَرَدُّهُمْ إليْكَ كَمَا رَجعَتِ الظَّبْيَة إليك» الحمد لله الذي جعلنا من أمّة محمد وسلم تسليماً.

Dalam kitab Alhilyah, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa ada seorang berjalan di depan Nabi dengan membawa rusa yang baru di dapatkan dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu kepadaku dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini melepaskan aku untuk menyusui anakku, kemudian aku akan kembali lagi.” Rasulullah kemudian bertanya kepada rusa tersebut, “Wahai rusa, jika engkau tidak kembali bagaimana?” jawab sang rusa, “Jika aku tidak kembali maka Allah akan mengutukku bagaikan orang yang mendengat namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca shalawat kepadamu.” Lalu Rasulullah menyuruh kepada orang pemburu rusa tersebut, “Lepaskan rusamu ini, dan aku yang akan menjamin akan kembalinya rusamu ini.” Kemudian pergilah rusa tersebut (untuk menyusui anak-anaknya), kemudian setelah itu ia kembali kepada sang pemburu. Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman: “Demi kemulyaan dan kebesaranKU, sungguh AKU lebih menyayangi pada ummatmu lebih dari rahmat rusa itu terhadap anak-anaknya, dan AKU akan mengembalikan mereka kepadamu sebagaimana kembalinya rusa itu kepadamu.

وابن أبي عاصم: «ألا أُخْبِرُكُمْ بِأَبْخَل النَّاسِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَذالِكَ أَبْخَلُ النَّاسِ»

Ibn Abi ‘Aashim berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sukakah kuberitakan kepada kalian (ashhab) manusia yang paling bakhil? Jawab sahabat: “Iya ya Rasulallah.” Maka Rasulullah berkata, “Yaitu orang yang mendengar namaku disebut orang di depannya, kemudian ia tidak membaca shalawat untukku, maka ia adalah manusia yang paling bakhil (pelit).

والنميري وابن بشكوال موقوفاً على أبي بكر رضي الله عنه قال: الصلاة على رسول الله أمحق للخطايا من الماء للنار، والسلام على النبي أفضل من عتق الرقاب، وحب رسول الله أفضل من مهج الأنفس، أو من ضرب السيف في سبيل الله.

Sayyidina Abu Bakar berkata: “Membaca shalawat kepada Rasulullah lebih kuat untuk menghapus dosa dari pada air terhadap api, dan mengucapkan salam kepada Rasulullah lebih afdhal dari memerdekakan budak, dan cinta kepada Rasulullah lebih afdhal daripada mengorbankan jiwa, dan dari pada mengangkat pedang fii sabilillah. (Annumari, dan Ibn Basykual

وحكي أن رجلاً حج وكان يكثر الصلاة على النبي في مواقف الحج وأعماله،فقيل له: لمَ لمْ تشتغل بالدعاء المأثور؟ فاعتذر بأنه خرج للحج هو ووالده، فمات والده بالبصرة، فكشف عن وجهه، فإذا هو صورة حمار فحزن حزناً شديداً، ثم أخذته سنة فرآه ، وتعلق به وأقسم ليخبرنه بقصة والده. فقال: إنه كان يأكل الربا وآكله يقع له ذلك دنيا وأخرى، ولكنه كان يصلي عليّ كل ليلة عند نومه مائة مرة، فلما عرض له ذلك أخبرني به الملك الذي يعرض عليّ أعمال أمتي، فسألت الله فشفعني فيه فاستيقظ فرأى وجه والده كالبدر، ثم لما دفنه سمع هاتفاً يقول له: سبب العناية التي حفت والدك الصلاة والسلام على رسول الله فآليت أن لا أتركها على أيّ حال كنت في أي مكان كنت.

Hikayat : Ada seorang ketika berhaji selalu mebaca shalawat Nabi dalam segala tempat yang mustahab, dan ketika ditanya: Mengapa kamu tidak membaca do’a-do’a yang ma’tsur dari Nabi di tempat-tempat yang tertentu ini? Maka ia lebih dahulu meminta ma’af kemudian menjawab dan menerangkan bahwa ia keluar bersama ayahnya menuju hajji, dan ketika sampai di Bashrah, tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, sedangkan mukanya berubah menjadi bagaikan khimar, maka aku sangat sedih akan hal tersebut yang sangat mempengaruhi perasaanku, dan ketika aku tertidur dalam keadaan yang sedih tiba-tiba mimpi bertemu dengan Rasulullah maka langsung saya pegang tangan beliau dan saya beritahukan keadaan ayahku, maka Rasulullah bersabda, “Ayahmu makan dari perkara riba, sedang pemakan riba itu memang demikian keadaannya (akan menjadi khimar), tetapi ia membaca shalat untukku tiap malam 100 x, karena itu ketika disampaikan oleh Malaikat keadaan ayahmu (berubah menjadi khimar), maka segera aku meminta izin (kepada Allah) memberikan syafa’ah untuk ayahmu, dan Allah mengizinkannya.”
Tiba-tiba aku bangun tidur dan wajah ayahku telah berubah bagaikan bulan purnama, dan setelah kukuburkan jasad ayahku, terdengar suara, “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membaca shalawat atas Nabi Muhammad.”
Karena itulah aku bersumpah untuk diriku, tidak akan aku tinggalkan shalawat atas Rasul dalam segala hal dan dimanapun aku berada.”
(Dinukil dan disarikan dari kitab irsyadul ‘ibad ilaa sabili al-rasyad, dalam bab fadhalu al-shalawat ‘ala al-Nabiy).