Search This Blog

Wednesday, September 3, 2014

Dzikir

ZIKIR
ﺍﻟﻠّﻪ SWT Berfirman
ﻳﺎﺃﻳّﻬﺎﺍﻟﺬﻳْﻦ ﺃﻣﻨﻮﺍﺍﺫْﻛﺮﺍﻟﻠّﻪ ﺫﻛﺮﺍ ﻛﺜﻴْﺮﺍ
Yang artinyaWahai orang-orang yang
beriman, ingatlah kepada ﺍﻟﻠّﻪ dengan
ingatan (zikir) yang banyak”. (Al-Ahzab
41)
ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ SAWW bersabda :
ﺃﻻ ﺃﻧﺒّﺌﻜﻢ ﺑﺨﻴﺮ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﻭﺃﺯْﻛﺎﻫﺎ
ﻋﻨﺪ ﻣﻠﻜﻜﻢ ﻭﺍﺭﻓﻌﻬﺎ ﻓﻲ ﺩﺭﺟﺎﺗﻜﻢْ
ﻭﺧﻴﺮ ﻣﻦْ ﺇﻋﻄﺎﺀﺍﻟﺬّﻫﺐ ﻭﺍﻟﻮﺭﻕ
ﻭﺃﻧﺘﻠﻘﻮﺍ ﻋﺪﻭّﻛﻢ ﻭﺗﻀْﺮﺑﻮﺍ
ﺃﻋْﻨﺎﻗﻬﻢ ﻭﻳﻀْﺮﺑﻮﺍ ﺃﻋْﻨﺎﻗﻜﻢ ﻗﺎﻟﻮﺍ
ﻣﺎﺫﺍﻙ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠّﻪ ﻗﺎﻝ ﺫﻛﺮﺍﻟﻠّﻪ
ArtinyaIngatlah, akan aku beri tahu
kalian tentang sebaik-baik amal kalian,
paling suci dari amal kalian di sisi Raja
kalian, dan paling tinggi untuk derajad
kalian, dan lebih baik daripada
pemberian emas dan perak, ataupun
daripada engkau bertemu musuh kalian
sehingga kalian memukul leher mereka
atau mereka memukul leher kalian ?”
Para Sahabat bertanya, ”Apa itu
wahai ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ ?.
Beliau menjawab, ”ZikruLlah”.
ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ SAWW bersabda :
ﻻﺗﻘﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﺣﺪ ﻳﻘﻮﺍﻝ
ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﻠّﻪ
Hari kiyamat tidak akan terjadi pada
seseorang yang mengucapkan ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﻠّﻪ
ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ SAWW juga pernah bersabda :
ﻻﺗﻘﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺣﺘّﻰ ﻻ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻲ
ﺍﻻﺭﺽ ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﻠّﻪ
”Kiyamat tidak akan terjadi
sehingga di bumi ini tidak ada yang
mengucapkan ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﻠّﻪ
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata,
”Zikir adalah rukun yang sangat kuat
dalam perjalanan menuju Al-Haq,
bahkan keberadaannya merupakan
tiang. Seseorang tidak akan sampai
menuju ﺍﻟﻠّﻪ kecuali dengan
melanggengkan zikir.
Zikir ada dua macam, zikir lisan dan
zikir hati. Zikir lisan diperuntukkan
bagi hamba yang mempergunakan
kemampuannya sehingga
menghantarkannya pada kelanggengan
zikir di dalam hati. Zikir lisan ini
memiliki pengaruh kepada zikir hati.
Jika seorang hamba berzikir dengan
lidah dan hatinya sekaligus, maka dia
adalah seorang ahli zikir yang
sempurna dalam sifat dan keadaan
perjalanan spiritualnya.
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata,
”Zikir menyebarkan kewalian. Barang
siapa menetapi zikir maka dia akana
dianugerahi penyebaran dan jika ia
melepas zikirnya maka penyebaran
kewalian akan dicabut darinya”.
Diceritakan bahwa Dalf As-Syibli
dalam permulaan perjalanan sufinya
setiap hari menyerap sedikit demi
sedikit dan mengendalikan nafsunya
dengan teguh supaya tidak terputus dari
kontinuitas zikir. Jiak sifat lupa
memasuki hatinya, maka dia memukul
nafsunya sampai pecah. Terkadang
keteguhan ini lenyap sebelum
menyentuh. Terkadang pula ia
memukul dinding pembatas dengan dua
tangan dan dua kakinya. Dikatakan,
zikir kepada ﺍﻟﻠّﻪ dengan hati adalah
pedang para murid. Dengan pedang itu
mereka berperang melawan musuh-
musuh dan menghalau beberapa
penyakit yang mencoba
mengganggunya. Musibah ketika
membayangi hamba dan sempat
menggetarkan hatinya, maka dia
membatasinya dari semua yang
dibencinya pada saat itu juga.
Muhammad Al-Washiti pernah
ditanya tentang zikir maka dijawab,
”Zikir adalah keluar dari medan
kelupaan menuju kepastian
musyahadah yang mampu mengalahkan
tekanan ketakutan dan tarikan rasa
cinta”. Dzunun Al-Mishri berkata,
”Barang siapa ingat ﺍﻟﻠّﻪ dengan ingatan
yang hakiki, maka dia pasti lupa segala
sesuatu di sisi ingatan-Nya (zikir
kepada ﺍﻟﻠّﻪ ) dan ﺍﻟﻠّﻪ akan menjaganya
dari segala sesuatu. Baginya punya
pengganti dari segala hal.
Abu Utsman pernah ditanya dari hal
yang demikian, ”Kami berzikir kepada
ﺍﻟﻠّﻪ tetapi tidak menemukan kemanisan
di dalam hati kami”. Kemudian
dijawab,”Pujilah ﺍﻟﻠّﻪ agar menghiasi
diantara luka-lukamu dengan
ketaatan”.
Di dalam hadits yang masyhur ُﻝْﻮُﺳَ
ﺍﻟﻠّﻪ SAWW pernah bersabda, ”
ﺇﻢﺘْﻳﺃﺭﺍَﺫِ ﺍﻟْﺠﻨّﺔ ﻓﺎﺭْﺗﻌﻮﺍ ﺑﻬﺎ ﻗﻴْﻞ ﻟﻪ ﻭﻣﺎ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨﺔ
ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺬﻛﺮ
Jika kamu melihat surga maka
merumputlah. Ditanyakan kepada
Beliau, “Apakah itu kebun surga ?”.
Beliau menjawab, “’Majlis zikir”.
Jabir bin AbdiLlah menceritakan,
“Suatu hari ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ SAWW keluar
menuju kami lalu bersabda, “
ﻳﺎ ﺃﻳّﻬﺎﺍﻟﻨْﺎﺱ ﺍﺭﺗﻌﻮﺍ ﻓﻲْ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨّﺔ ﻗﻠﻨﺎ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠّﻪ
ﻣﺎ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻗﺎﻝ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺬّﻛﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻏﺪﻭﺍ ﻭﺭﻭْﺣﻮﺍْ
ﻭﺍﻟﺬْﻛﺮﻭﺍ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐُّ ﺃﻥْ ﻳﻌْﻠﻢ ﻣﻨﺰﻟﺘﻪ ﻋﻨْﺪ ﺍﻟﻠّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ ﻛﻴﻒ ﻣﻨْﺰﻟﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﺪﻩ ﻓﺎﻥّ ﺍﻟﻠّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
ﻳﻨﺰﻝ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺣﻴْﺚ ﺃﻧﺰﻟﻪ ﻣﻦْ ﻧﻔْﺴﻪ
“ Hai manusia merumputlah kalian
semua di kebun surga.’Kami bertanya,
‘Wahai ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ , apakah kebun surga
itu ?’ Beliau menjawab, ‘Majlis zikir.
Makan pagilah kalian dengan zikir,
makan sorelah kalian dengan zikir.
Barang siapa ingin mengetahui
kedudukannya di sisi ﺍﻟﻠّﻪ maka
pandanglah bagaimana kedudukan ﺍﻟﻠّﻪ di
sisinya (di hatinya). Sesunggguhnya ﺍﻟﻠّﻪ
turun pada hamba menurut turunnya
hamba di sisi-Nya”.
Dalf As-Syibli mengatakan, “
Bukankah ﺍﻟﻠّﻪ telah berfirman, “Aku
duduk di sisi orang yang mengingat-Ku.
Apa yang kalian peroleh wahai
manusia, dari majlis Al-Haqq ini ?”’.
As-Syibli kemudian
mendendangkan sya’ir :
Saya ingat pada-Mu
Tidak, saya lupa pada-Mu sepintas
Apa yang lebih ringan dalam zikir
Selain zikir lidahku
Saya dengan tanpa cinta
Mati dari keninginan
Hati pergi tanpa arah menujuku
Berputar dari timur ke barat
Ketika cinta melihatku
Sesungguhnya Engkau hadir
padaku
Saya menyaksikan-Mu ada
Di segala tempat
Saya berdialog dengan yang
diadakan
Dengan tanpa ucapan
Saya melirik yang diketahui
Dengan tanpa pandangan
Diantara keistimewaan zikir
adalah tidak dibatasi waktu, bahka tidak
ada waktu melainkan seorang hamba
diperintahkan berzikir, baik yang
bersifat wajib maupun sunah. Salat
meski memiliki kedudukan sebagai
ibadah yang paling mulia, namun pada
waktu-waktu tertentu tidak boleh
dilakukan. Sedangkan zikir dilakukan
sepanjang waktu dalam berbagai
keadaan.
ﺍﻟﻠّﻪ berfirman :
ﺍﻟّﺬﻳﻦ ﻳﺬﻛﺮﻭﻥ ﺍﻟﻠّﻪ ﻗﻴﺎﻣﺎً ﻭﻗﻌﻮْﺩﺍَ ﻭﻋﻠﻰ ﺟﻨﻮﺑﻬﻢْ
“Orang-orang yang mengingat ﺍﻟﻠّﻪ baik
dalam keadaan berdiri, duduk maupun
berbaring (Ali Imran 191).
Abu Bakar bin Furak mengatakan,
“Posisi berdiri dengan kebenaran zikir
dan posisi duduk dengan menahan diri
dari sikap berpura-pura (berzikir).
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah
ditanya, “Apakah berzikir atau berpikir
yang lebih mulia ?”
“Apa yang terjadi pada Syaikh ?”
“Syaikh AbduRrahman menajwab,
“Bagi saya, zikir lebih sempurna
daripada berfikir karena ﺍﻟﻠّﻪ Dzat Al-
Haqq disifati dengan zikir tidak dengan
berfikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli
Al-Haqq adalah lebih sempurna dari
sesuatu yang dikhususkan oleh makhluk
sebagai sifat Al-Haqq”.
Maka ustadz Abu Ali tersenyum
membenarkan jawaban As-Syaikh.
Muhammad Al-Kattani
mengatakan, “seandainya tidak ada
ketentuan yang mengatakan bahwa
zikir kepada-Nya adalah kewajiban
terhadap saya, niscaya saya tidak
mengingat-Nya sebagai pengagungan
kepada-Nya sebagaimana saya
mengingat-Nya”.
Ustadz Abu Ali mendendangkan
syair kepada teman-temannya :
Tidakkah saya jika mengingat-Mu
Selain keninginan mengusirku
Hatiku, rahasiaku, ruhku
Ketika mengingat-Mu
Sehingga sekaan-akan mata-mata
Dari-Mu membisiku untuk-Mu
Celakalah
Zikir adalah untuk-Mu semata.
Diantara keistimewaan zikir
adalah menjadikan diterimanya zikir-
zikir yang lain.
Firman ﺍﻟﻠّﻪ SWT :
ﻓﺎﺫْﻛﺮﻭْﻧِﻲ ﺍﺫْﻛﺮﻛُﻢْ
Ingatlah Aku, maka aku akan
mengingatmu (Al-Baqarah 152)
Dalam suatu hadits disebutkan
bahwa Jibril As pernah berkata kepada
ُﻝْﻮُﺳَ ﺍﻟﻠّﻪ SAWW bahwa ﺍﻟﻠّﻪ SWT
berfirman “Aku memberi umatmu
sesuatu yang belum pernah Aku berikan
kepada umat-umat yang lain”.
“Apa itu wahai Jibril ?”
“Yaitu firman-Nya yang
mengatakan, ‘ (Karena itu) ingatlah
kalian maka Aku akan mengingatmu (Al-
Baqarah 152). Tidak ada seorangpun
selain umat ini yang pernah
mengucapkannya.
Menurut penafsiran, ayat tadi
bermakna bahwa malaikat selalu
berkonsultasi dengan orang yang
berzikir ketika hendak mencabut
nyawanya.
Di dalam sebagian kitab-kitab
agama disebutkan bahwa Nabi Musa AS
pernah bertanya, “Wahai Tuhan, di
mana Engkau berada ?”
“Di hati hamba-Ku yang beriman”.
Sufyan Atsauri pernah bertanya
kepada Dzunun Al-Mishri tentang zikir
lalu dijawab, “Zikir adalah kegaiban
orang yang berzikir dari zikir itu
sendiri”. Kemudian beliau melantunkan
sebuah syair :
Tidak, karena saya melupakan-MU
lebih banyak dari mengingat-Mu
Namun dengan itu lidahku mengalir.
Sahal bin AbdiLlah berkata, Tiada
hari melainkan Dzat Yang Maha Agung
memanggil-manggil, “Wahai hamba-Ku,
kalian tidak pernah berlaku adil
terhadap-Ku. Engkau memohon kepada-
Ku tetapi engkau pergi kepada selain-
Ku. Aku menghilangkan musibah-
misibah darimu tetapi engkau memikul
beban-beban kesalahan. Wahai anak
Adam, apa yang akan kamu katakan
kelak ketika datang kepada-Ku ?”
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata,
“Di surga terdapat lembah yang subur.
Ketika seseorang berzikir, maka para
malaikat menanam pohon-pohon di
lembah itu. Ketika sebagian malaikat
berhenti, maka ditanyakan kepadanya,
“Mengapa kamu berhenti ?” lalu
dijawab, “Kawanku (orang yang
berzikir) telah membuat badanku lelah
dan payah ”.
Dikatakan bahwa mencari
kelezatan yang hilang ada di dalam tiga
hal yaitu di dalam shalat, zikir dan
membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya
kalian pasti menemukannya karena jika
tidak maka ketahuilah bahwa pintu
sedang ditutup.
Ahmad Al-Aswad bercerita, “Saya
pernah bersama Ibrahim Al-Khawas
dalam suatu perjalanan. Kami
mendatangi suatu tempat yang di
dalamnya banyak terdapat ular. Ketika
tiba pada suatu pesisir pantai, Ibrahim
merapatkan sampannya lalu duduk dan
sayapun ikut duduk. Akhirnya
malampun tiba. Udara yang sangat
dingin mendorong ular keluar dari
sarang mereka. Binatang berbisa
tersebut merayap kesana kemari untuk
mencari mangsa dan terus berjalan
hingga mendekati kami. Ibrahim
berbisik kepadaku, ”berzikirlah kepada
ﺍﻟﻠّﻪ”. Sayapun mengucapkan zikir, dan
anehnya binatang-binatang tersebut
menjauh. Tidak berapa lama ular ular
tersebut mendatangi kami, dan Ibrahim
mengingatkan kami seperti semula, dan
saya menurutinya hingga pagi hari.
Setelah matahari cerah, dia berdiri dan
berjalan, kemudian saya ikut berdiri
dan berjalan. Baru beberapa langkah
kami berjalan, tiba-tiba seekor ular
besar jatuh di bekas tempat duduk
Ibrahim dalam keadaan tidur
melingkar. Sayapun berkata, “ alangkah
pulas tidur ular ini”. Lalu dijawab
Ibrahim, “Tidak, semenjak beberapa
masa yang silam, saya tidak pernah
tidur malam lebih nyaman daripada
pagi ini “.
Dikatakan, “Barang siapa yang
tidak merasakan kerasnya lupa, maka
dia tidak dapat merasakan manisnya
zikir.” Sarry As- Saqathy berkata,
Dalam sebagian kitab disebutkan, “ Jika
mengingat-Ku lebih menguasai hamba-
Ku, berarti dia rindu kepada-Ku yang
membuat Aku rindu kepadanya”. Sarry
mengatakan, “ ﺍﻟﻠّﻪ memberi wahyu
kepada Dawud AS, “Bersama-Ku,
bergembiralah dan dengan mengingat-
Ku, bersenang-senanglah”.
Ahmad An-Nuri mengatakan,
“Segala sesuatu memiliki siksaan, dan
siksaan bagi orang makrifat adalah
keterputusannya dari zikir”. Di dalam
kitab Injil disebutkan, “Ingatlah Aku
ketika kamu marah, maka Aku pasti
mengingatmu ketika Aku marah.
Ridhalah dengan pertolongan-Ku
karena pertolongan-Ku lebih baik
daripada pertolonganmu kepada dirimu
sendiri”.
Seorang pendeta yahudi pernah
ditanya, “Apakah tuan puasa ?”
“Saya puasa dengan mengingat-
Nya. Jika saya mengingat selain-Nya
berarti saya telah berbuka”.
Seseorang yang mengabadikan
hatinya dengan zikir maka setan yang
mendekatinya pasti terbanting,
sebagaimana manusia yang mendekati
setan tanpa zikir juga pasti terbanting.
Para setan bingung menyaksikan hal
ini. Mereka bermusyawarah, “Apa yang
dimilikinya ?” lalu dijelaskan, “Manusia
telah menyentuhnya”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan,
“Saya tidak mengetahui maksiyat yang
lebih buruk melebihi lupa/lalai kepada
Tuhan”. Dinyatakan bahwa zikir khafi
(secara rahasia) tidak bisa diangkat ke
langit oleh para malaikat karena tidak
tampak baginya. Zikir semacam ini
merupakan rahasia antara seorang
hamba dengan ﺍﻟﻠّﻪ . Salah seorang ulama
sufi menuturkan pengalaman anehnya.
Dia mengatakan, “Diceritakan kepada
saya tentang seorang ahli zikir yang
tinggal di sarang harimau. Sayapun
mendatanginya. Di sana saya melihat
dia sedang duduk berzikir. Tiba-tiba
seekor harimau menerkam dan
berusaha merobek-robek badannya. Dia
pingsan dan sayapun pingsan. Ketika
dia sadar dan saya juga mampu berdiri,
maka saya bertanya kepadanya, “Ada
apa?”. Diapun menjawab bahwa ﺍﻟﻠّﻪ
telah merobohkan harimau itu”.
AbduLlah Al- Jariri mengatakan,
“Diantara sahabat-sahabat kami ada
seorang pria yang banyak mengucapkan
ﺍﻟﻠّﻪ.. ﺍﻟﻠّﻪ . ketika dia berjalan di sela-sela
barisan pohon kurma, tiba-tiba
sebatang pohon kurma tumbang dan
menimpa kepala ahli zikir
tersebut.kepalanya pecah dan darah
mengalir dari sekujur tubuhnya. Di
tanah tertulis ribuan kata ﺍﻟﻠّﻪ, ﺍﻟﻠّﻪ
dengan tinta darahnya”.

No comments:

Post a Comment

Melagkah pasti